Monday, November 2, 2009

Muhammadiyah

Cakrawala: Muhammadiyah

Akhir minggu ini Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial-keagamaan yang didirikan pada 1912 di Yogya, oleh K.H. Ahmad Dahlan, baru saja menyelesaikan Muktamarnya yang ke-45. Muktamar kali ini dilaksanakan menjelang umurnya yang satu abad. Karena itu maka timbul pikiran-pikiran untuk melakukan evaluasi mengenai perkembangannya. Apa kemajuan yang telah dicapai dan masalah-masalah apa yang dihadapi? Di situ terselip pula gagasan untuk melakukan 'revitalisasi'.

Selama ini, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi 'pembaharu' yang mengemban misi modernisasi. Namun pada awal 1970-an, Nurcholish Madjid, ketika mencetuskan ide pembaharuan pemikiran dalam Islam, dia mengatakan bahwa Muhammadiyah telah 'berhenti' sebagai organisasi pembaharu. Sebaliknya, gejala pembaharuan justru nampak pada Nahdhatul Ulama (NU) yang menjadi 'pesaingnya'.

Padahal NU selama itu dikenal sebagai organisasi tradisional yang
perkembangannya selalu berada di 'belakang' Muhammadiyah yang memang lebih tua umurnya itu. Lebih dari itu, NU yang dipimpin oleh para kyai atau ulama pesantren itu dikenal sebagai organisasi yang bersikap konservatif atau 'letmi' telat mikir, karena sebelum bersikap selalu lebih dahulu merujuk kepada 'kitab-kuning'. Namun NU dalam realitas berkembang mengikuti Muhammadiyah.

Sinyalemen Cak Nur (panggilan akrab Nurcholish Madjid) itu sudah tentu membuat sebagian petinggi Muhammadiyah, termasuk Amin Rais sendiri 'marah'. Tapi dalam kenyataannya, NU nampak lebih maju. Misalnya NU memelopori penerimaan Pancasila. NU juga nampak lebih 'merakyat' sehingga dianggap mampu mewakili aspirasi 'wong cilik'. NU juga mampu menampilkan diri dengan wawasan kebangsaan dan ke-Indonesiaan, akrab dengan tradisi dan budaya.

Ketika kembali kepada khittah dalam Muktamarnya di Situbondo 1983, NU memelopori wacana 'Islam kultural' sebagai lawan dari 'Islam politik', walaupun NU justru sering terseret oleh arus politik praktis. Ini berarti juga bahwa NU menyatakan diri sebagai organisasi civil society. Terakhir timbulnya generasi muda yang beraliran liberal. Ini disimbolkan oleh Ulil Absor Abdilla, Masdar M. Mas'udi dan Zuhairi Misrawi. Dalam gejala-gejala itu justru Muhammadiyah yang nampak 'letmi' dan 'kebakaran jenggot'. Tokoh
muda Muhammadiyah, Din Samsuddin yang selalu punya perhitungan-perhitungan politik itu, justru menampatkan diri sebagai 'anti liberalisasi'.

Muhammadiyah sebenarnya memiliki tiga wajah. Pertama, sebagai organisasi dakwah yang berorientasi puritanisme. Kedua, sebagai organisasi pendidikan. Ketiga, sebagai organisasi sosial yang bergerak. Tiga wajah itu memang merupakan Trilogi Muhammadiyah.

Di bidang dakwah, Muhammadiyah dikenal sebagai penganut aqidah yang
berorientasi pada ajaran Ibn Taymiyah dan Muhammad Abdul Wahab (Wahabisme). Tema dakwah yang sangat terkenal adalah pemberantasan 'TBC', sebagai
singkatan dari tachayul, bid'ah dan khurafat. Dakwah ini dimaksudkan agar umat Islam berfikir maju dan bisa menerima ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Namun dakwah ini banyak menyinggung NU yang dianggap sarang TBC.

Padahal NU itu dakwahnya adalah Islam yang akrab dengan tradisi sehingga menyentuh rakyat kecil di pedasaan. Dampaknya, jumlah pengikut NU lebih banyak, sehingga NU dimahkotai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah yang lebih tua malah nomor dua. Dengan jumlah besar itu NU memiliki nilai politik. Itulah sebabnya NU selalu tergoda untuk 'berselingkuh' dengan politik dan kekuasaan, seperti tercermin dari perilaku Abdurrahman Wahid. Di sini pengaruh politik NU sering lebih kuat daripada Muhammadiyah.

Sekarang ini timbul 'kesadaran' di kalangan Muhammadiyah tentang pentingnya tradisi dan ke-Indonesiaan. Dari sinilah timbul gagasan untuk mengembangkan 'dakwah kultural'. Yang dimaksud dengan dakwah kultural disini bukanlah dakwah melalui kesenian, melainkan dakwah yang lebih ramah dengan tradisi.

Munir Mulkan adalah tokoh Muhammadiyah yang banyak studinya mengenai aspek budaya Jawa dalam Islam-Indonesia. Dia banyak menulis misalnya mengenai paham Syaikh Siti Jenar yang riwayatnya sarat dengan mitos itu. Dalam pemilihan umum yang lalu banyak diisukan bahwa "jika Amin Rais menang, maka selamatan dan tahlilan akan dilarang". Isu semacam itu sangat merugikan Amin Rais yang mencalonkan diri sebagai Presiden itu, karena selamatan dan tahlilan sudah membudaya dalam masyarakat. Sekarang ini Muhammadiyah masih dihinggapi dilema antara tradisi dan modernisasi. Muhammadiyah dinilai masih 'canggung' bergaul dengan tradisi.

Dilema kedua dihadapi di bidang politik. Pada 1980-an, Muhammadiyah pernah menggalakkan wacana mengenai 'masyarakat utama'. Wacana ini menimbulkan anjuran agar Muhammadiyah menjauhi politik, dalam arti jangan memburu kekuasaan, melainkan mengonsentrasikan diri dalam pengembangan masyarakat dan budaya. Hendaknya Muhammadiyah lebih memperhatikan pembinaan 'masyarakat madani'.

Godaan politik

Tapi ternyata Muhammadiyah tidak mampu menolak godaan politik. Dulu, Muhammadiyah pernah membangun Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), dengan mengirimkan Djarnawsi Hadisiswojo sebagai Ketua dan Lukman Harun sebagai Sekjen. Tampilnya Muhammadiyah itu bukan hanya diterima, tetapi juga dikehendaki oleh Pemerintah, yang ingin menyingkirkan orang-orang Masyumi.

Namun, ternyata kedua tokoh itu dianggap terlalu dekat dengan tokoh-tokoh Masyumi, karena tokoh semacam Mohammad Roem dan Anwar Haryono adalah keluarga Muhammadiyah juga. Akibatnya, Pemerintah merestui kudeta Anwar Kadir dan J. Naro menyingkirkan orang-orangMuhammadiyah yang ternyata dekat dengan Masyumi. Kemudian di masa reformasi, Muhammadiyah mensponsori pendirian Partai Amanat Nasional (PAN). Ini menyeret orang-orang Muhammadiyah ke arus politik dan partai dan kehilangan' pemimpinnya, M. Amin Rais. Selanjutnya Muhammadiyah juga memperjuangkan orang-orangnya untuk duduk di kabinet. Kecenderungan politik ini merisaukan kalangan Muhammadiyah.

Dilema yang lain adalah di bidang pemikiran. Konsekuensi dari mengusung modernisasi adalah berkembangnya pemikiran liberal. Muhammadiyah makin banyak didukung oleh cendekiawan daripada ulama/kyai. Namun harus diingat, bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang berorientasi pada puritanisme.

Pembaharuan' merupakan kata yang mengganjal, karena yang diinginkan Muhammadiyah adalah purifikasi dan pencarian otentisitas. Sementara itu, secara alamiah timbul pemikiran-pemikiran liberal di kalangan generasi mudanya. Ini dirasakan sebagai 'duri dalam daging' oleh Muhammadiyah.

M. Dawam Rahardjo
Staf Ahli PUSTEP UGM

Mahasiswa sebagai Agent of Change

KAUSALITAS..........!

Ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan, kesadaran inilah yang menentukan arah pergerakan mahasiswa ketika di pahami oleh mahasiswa sebagain seorang insan intelektual. Ketika pemahamani ini menjadi titik kesadaran bagi mahasiswa maka di saat itu pula kepekaan dan kepedulian mereka akan mengalami perubahan.

Pertama : Sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat.
Kedua : Sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda.
Ketiga : Kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka.
Keempat : Mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda.
Kelima : Seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.

Disamping itu ada tiga bentuk sumber daya yang dimiliki mahasiswa dan dijadikan energi pendorong gerakan mereka.
Pertama :
Ialah Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui mimbar akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian.
Kedua :
Sikap idealisme yang lazim menjadi ciri khas mahasiswa
Ketiga :
Potensi sumber daya tersebut ‘digodok’ tidak hanya melalui kegiatan akademis didalam kampus, tetapi juga lewat organisasi-organisasi ekstra universitas yang banyak terdapat di hampir semua perguruan tinggi.

Wacana Islam Kiri ?

Pembahasan Islam Kiri

Akhirnya, kita tidak boleh lupa perjuangan melawan intervensi Amerika Serikat di Vietnam, yang tetap menjadi perjuangan utama di dunia sekarang ini. Dengan dimulainya negosiasi itu di Paris, tidak berarti bahwa tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membantu perjuangan kawan-kawan kita di Vietnam. Untuk itu, saya mengajak kalian ikut dalam aksi dunia yang dimulai oleh gerakan mahasiswa Jepang, Zengakuren, Federasi Mahasiswa Revolu¬sioner Inggris bersama dengan Kampanye Solidaritas Vietnam, dan Komite Mobilisasi Mahasiswa di sini. Ini adalah Minggu Solidaritas untuk revolusi Vietnam, dari tanggal 21 sampai 27 Oktober. Minggu ini ratusan ribu mahasiswa, buruh muda dan revolusioner muda akan turun ke jalan bersamaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diajukan kawan-kawan Vietnam! Perlihatkan pada dunia bahwa di Amerika Serikat ada ratusan ribu orang yang menginginkan penarikan kembali pasukan Amerika dari Vietnam. Itu pasti akan berhasil. (terputus oleh tepuk tangan)
Al-Yasar al-Islami ("Islam Kiri") adalah penerus al-'Urwah al-Wutsqa danal-Manar. Tujuan utamanya, menyajikan tulisan-tulisan keislaman seperti dipahami al-Afghani, tulisan-tulisan sekitar perjuangan menentang kolonialisme dan keterbelakangan, yang menyerukan kebebasan dan keadilan sosial, penyatuan kaum Muslim dalam blok geografis Islam di mana pun.
Al-'Urwah al-Wutsqa diperuntukkan bagi kaum intelektual, bukan massa Muslim,dan menyerukan solidaritas keagamaan yang mendalam. Padahal,masyarakat kita terbagi ke dalam dua kelompok: penguasa dan yang dikuasai. Ini tragedi.
"Islam Kiri" diperuntukkan bagi kelompok yang dikuasai dan diharapkan akan menciptakan persamaan dengan merebut hak-hak mereka dari kelompok yang berkuasa. The New Minaret bisa juga dipilih sebagai nama jurnal ini.
Tapi hanya kelompok reformis yang akrab dengan nama ini. Semangat revolusioner yang dibawa al-Afgani hilang dalam Minaret (al-Manar) lama. Nama-nama lain juga dapat dipilih: Kemunculan Islam, Kebangkitan Islam, Persoalan-Persoalan Islam, Islam Kontemporer, Petunjuk, dan lain-lain. Tapi nama-nama itu tidak dapat menjelaskan apa yang hendak dilakukan "Islam Kiri". Nama Kemajuan Islam dan Gerakan Islam jelas mengandung dimensi revolusi, tapi hanya menekankan aspek ideologis. Walaupun revolusi keyakinan atau syari'ah tidak banyak mengandung konsep-konsep yang terkandung dalam ide revolusi Barat, dan walaupun ia sesuai dengan tujuan penyatuan bangsa dengan jalan Islam dan revolusi, ia tidak bicara tentang akal dan tidak dibatasi oleh intelek.
Nama "Islam Kiri" dipilih secara spontan. Kiri dalam ilmu politik berarti perlawanan dan kritisisme. Ia juga masuk ke dalam terminologi ilmu tentang manusia. Ia merupakan terminologi akademis. Juga, nama "Islam Kiri" sesuai dengan realitas kaum Muslim yang terbagi ke dalam dua kelompok. Dan "Islam Kiri" memihak pada kelompok yang dikuasai, tertindas, miskin dan tersingkir. Maka "Islam Kiri" menyajikan "Kiri" dalam konotasinya yang akademis.
Argumen yang menentang ide "Islam Kiri" mungkin datang dari "Saudara-saudara se-iman" (Brothers in Goa) Mereka akan mengatakan: "Tidak ada Kanan atau pun Kiri dalam Islam." Pandangan ini mengacu pada prinsip, bukan pada realitas kaum Muslim sebagai masyarakat, negara, dan kelas. Kita tidak bicara tentang Islam, tapi tentang kaum Muslim dalam realitas sejarah dan sistem sosial tertentu. Sepanjang kita terlibat dalam sejarah, kita ada dan terlibat dalam pertentangan antara kekuatan-kekuatan dan perbedaan-perbedaan kepentingan.
Kiri dan Kanan ada pada tingkat sosial dan historis itu. Dalam tradisi intelektual Islam, memilih mengikuti Kiri atau Kanan ditentukan oleh pengetahuan tentang ilmu pengetahuan (filsafat ilmu): Mu'tazilah adalah Kiri, Asy'ariyah adalah Kanan dalam teolog, Islam intelektual natural seperti yang dikemukakan Ibn Rusyd adalah Kiri, filsafat iluminasi seperti yang anut al-Farabi dan Ibn Sina adalah Kanan; mazhab hukum Islam Maliki yang bersandar pada kesejahteraan adalah Kiri, mazhab Hanafi adalah Kanan. Tafsir dengan 'aql adalah Kiri, sedangkan dengan naql adalah Kanan. Dalam sejarah politik, Ali dan Husein adalah Kiri, keluarga Mu'awiyah dan Yazid adalah Kanan. Para propagandis yang ingin mempertahankan kelangsungan pengusa politik, ekonomi, dan realitas sistem kelas akan mengatakan bahwa "Islam Kiri" merupakan permainan yang akan memecah-belah umat dan mengarah pada pemihakan pada satu kelompok. Di sini Kiri dipandang sebagai pengingkaran terhadap agama, ateis, dan pemecah-belah. Ini salah satu dari sisa-sisa budaya penguasa kolonial yang menjinakkan kaum Muslim agar mereka tidak mendekati liberalisme, demokrasi, dan perjuangan, termasuk ide-ide Kiri. Kiri di sini adalah keamanan yang membuat gerakan massa dan gerakan sosial aman, dan ia menyerukan dihentikannya eksploitasi massa oleh kekuatan dari luar, dan menyerukan pembebasan dari penguasa kolonial. Menjelaskan pengertian "Islam Kiri" ini penting untuk melindungi budaya nasional kita. Dalam sejarah, banyak gerakan pemikiran dikaitkan dengan nama tertentu, dan suatu pemikiran terkait erat dengan nama itu.
Kita membutuhkan slogan, dan dapat mengambilnya dari sebuah ayat al-Qur'an yang sangat memihak pada massa Muslim. Beberapa di antaranya menjadi slogan Revolusi Islam di Iran. Kita membutuhkan slogan yang mampu menggugah perasaan kita, bahwa masyarakat Islam kita telah bergeser dan berubah menjadi saudara kolonialisme dan keterbelakangan. Dulu kita pernah menjadi pencipta peradaban dan guru umat manusia. Tapi sekarang pikiran kita ditekan rata dengan bumi. Karena itu kita memilih ayat ini: "Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang tertindas di muka bumi, dan hendak menjadikan mereka pernimpin dan menjadikan mereka yang mewarisi bumi." (QS. 28:5).
Penindasan di bumi adalah penggerak revolusi kita. Mewarisi bumi dan pemimpin umat manusia adalah harapan dan cita-cita kita.
Akal dan Waktu
"Islam Kiri" muncul atas dasar telaah terhadap sejumlah program modernisasi dalam masyarakat kita. Pertama, modernisasi cenderung terkait dengan kekuasaan yang mentransformasikan Islam ke dalam ritus keagamaan yang menekankan akhirat, dan sebaliknya, realitas Islam bertentangan dengan sistem Islam. "Islam ritualistik" tidak lain daripada selubung yang menyatukan kaum Westernis, feodalis dan kapitalis kesukuan. Karena pandangan ilahiah dan konsep pusat-piramidal alam tunduk pada kecenderungan-kecenderungan ini, maka pandangan humanistik, konsep sejarah dan gerakan sosial hilang. Kedua, kecenderungan-kecenderungan liberal yang dominan sebelum revolusi Arab secara kultural berasal dari Barat, walaupun mereka menganggap imperialisme sebagai musuh. Maka kita merasakan apa yang dikenal sebagai Westernisasi budaya, dan kita menjadi korban kepentingan dan monopoli ekonomi. Ketiga, kecenderungan-kecenderungan Marxis-Barat ingin membangun suatu kemapanan yang menentang imperialisme. Tapi mereka tidak bisa mengembangkan khazanah keislaman kita. Bahkan ada tanda-tanda yang menunjukkan, ia berlawanan dengan massa Muslim. Yang paling penting dari gejala- gejala ini adalah tetap berkuasanya status quo. Keempat, ada gejala-gejala revolusi-nasional yang menimbulkan perubahan mendasar dalam struktur sosial-budaya kita, namun tidak melibatkan kesadaran massa Muslim.
Munculnya "Islam Kiri" adalah untuk merealisasikan tujuan revolusi nasional dan prinsip-prinsip revolusi sosialis yang bersandar pada kesadaran masyarakat Muslim dan khazanah komunitas Islam secara keseluruhan. "Islam Kiri" juga sangat dipengaruh Revolusi Islam Iran, yang mengejutkan seluruh dunia. Revolusi ini nampaknya menjadi model revolusi lain, selain revolusi Perancis dan revolusi kaum Bolshevik (Rusia). Ia menjadi model bagi revolusi orang-orang yang beriman. "Islam Kiri" juga mempunyai akar-akarnya dalam gerakan-gerakan Islam di Asia dan revolusi Aliazair, di mana Islam semakin kuat sebagai tradisi nasional untuk menggerakkan masyarakat Muslim. "Islam Kiri" adalah pejuang baru bagi Islam dan benteng yang kokoh bagi kaum Muslim. Ia berjuang melawan serangan gencar kolonialisme, yang berusaha menghancurkan revolusi kaum Muslim. Tapi "Islam Kiri" menghancurkan mereka sebelum mereka melumpuhkan Islam. Sekarang, revolusi Islam hadir sebagai revolusi yang paling mengancam super power. Kaum Muslim di Rusia, Cina, dan Asia Tenggara sekarang bergerak. Ketika kolonialisme merasakan kekuatan revolusi Islam, ia berusaha mendekati revolusi ini. Tapi pemimpin gereja di Asia Tenggara menyerukan agar menghormati kaum Muslim dan mendukung revolusi. Revolusi ini akan menjadi kekuatan nyata yang melawan super power.
"Islam Kiri" adalah ideologi revolusi kaum Muslim.
"Islam Kiri" juga merupakan tahap lain dalam perkembangan reformasi keagamaan kita yang telah kita mulai kira-kira 200 tahun lalu. Ini bukan hanya kekuatan pada tingkat konfrontasi melawan bahaya-bahaya abad ini, tapi juga pada tingkat rekonstruksi pemikiran keagamaan reformis. Di sini pemikiran keagamaan kembali dibentuk, sejak filsafat Ibn Rusyd, teologi Mu'tazilah, landasan hukum Islam Syathibi, sejarah Ibn Khaldun, dan hukum Islam Ibn Taymiyah. Kita telah mengambil jarak dari Asy'ariyah, yang bergandengan dengan sufisme, yang menjadi dasar pandangan dunia kita selama ini, basis kekuatan yang melestarikan penguasa, perilaku fatalistik pada sebagian kaum Muslim, yang hanya menunggu bantuan dan insiprasi dari langit, yang mengabaikan kemampuan manusia untuk menentukan tindakannya sendiri.
Kita mendekati Mu'tazilah yang oleh Muhammad Abduh dihadirkan sebagai kekuatan akal untuk mengetahui dan bertindak. Manusia menjadi makhluk yang mampu berpikir dengan akalnya, dan mampu bertindak sesuai dengan kehendaknya. Kita mengikuti upaya-upaya al-Kawakibi yang merintis penyelidikan hakikat despotisme untuk membebaskan kaum Muslim. Kita juga mengikuti usaha Muhammad Iqbal yang mencoba menyelidik esensi agar setiap Muslim mampu menjadi manusia yang merdeka, mengeritik peradaban Barat, dan mencoba menanggulangi kehidupan dan aktivitas kaum Muslim demi tauhid. Iqbal mengatakan dalam syairnya:
Tauhid pernah menjadi kekuatan hidup di bumi
Ia kemudian menjadi teologi skolastik
Kebodohan kita sekarang, situasi kita Membuat tauhid bodoh dalam realitas
O, jendral! Kau lihat sarung pedang
Yang menjadi Tuhan pedang
Syeikh tidak tahu bahwa tauhid dipikirkan
Lalu pembicaraan bodoh tanpa tindakkan
O, Imam yang mengikat bagaimana kau mengetahui
Apa esensi pemimpin umat manusia
"Islam Kiri" juga punya akar dalam karya pemikir Islam revolusioner, Ali Syari'ati, dan pemikir yang menggerakkan revolusi Islam Iran yang agung, Imam Khomeini. Ia juga terkait dengan gerakan-gerakan yang bermacam-macam di Libya, Sudan, Aljazair, Maroko, dan gerakan-gerakan di bawah pimpinan Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, dll. "Islam Kiri" menggalang revolusi melawan imperialisme dan keterbelakangan. Ia membangkitkan gerakan-gerakan Islam revolusioner sekarang, dan merumuskan teorinya.
"Islam Kiri" terlibat di zaman ini, dan mengupayakan transformasi kaum Muslim dari keterbelakangan ke kemajuan, dari kolonialisme ke pembebasan, dari penyalahgunaan ke kekuasaan masyarakat Muslim yangs sejahtera, dari feodalisme suku dan kapitalisme kelas menengah ke sosialisme masyarakat Muslim, ummah, dan dari penguasaan ke kebebasan dan demokrasi. Ini merupakan partisipasi dalam gerakan sejarah kaum Muslim setelah Revolusi Islam di Iran, dan bertugas merebut hak-hak dan kekayaan kaum Muslim agar dikuasainya. Kalau kaum Muslim memenangkan revolusi dan merebut kekayaan mereka, mereka akan menguasai dunia. Pada waktu itu Tuhan akan menjadikan mereka pemimpin dan ahli waris dunia. Akan ada pembaru pada abad ke-15 H., seperti yang diungkapkan Hadits: "Tuhan mengutus seorang manusia yang memperbarui agama sebap awal abad."
Menghidupkan Kembali Khazanah Klasik
Khazanah kita mengandung tiga macam ilmu: ilmu-ilmu rasional-tradisional seperti dasar-dasar agama, yakni ushul al-fiqh, filsafat dan sufisme; ilmu-ilmu rasional seperti matematika, astronomi, fisika, kimia, kedokteran dan farmasi; ilmu-ilmu tradisional seperti ilmu al-Qur'an, ilmu Hadits, sirah (biografi nabi), fiqih, dan tafsir. "Islam Kiri" mengambil, menghidupkan dan mengembangkan kembali bagian yang revolusioner dari ilmu-ilmu ini. "Islam Kiri" sejalan dengan Mu'tazilah yang menghadirkan revolusi akal, dunia alam, dan kebebasan manusia. Ia menjelaskan bahwa tauhid lebih dekat ke prinsip-prinsip pemikiran murni ketimbang kehidupan yang terbatas; tanzih (transendensi) dipandang lebih mengungkapkan hakikat akal daripada tasybih (antropomorfisme); tauhid antara esensi dan sifat dipandang lebih dekat pada keadilan daripada perbedaan antara keduanya; individu dipandang punya kebebasan bertanggungjawab, pemilik tindakannya; akal diyakini mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dua sifat dalam perbuatan manusia; dunia dipandang bergerak menuju suatu tujuan sesuai dengan hukum dunia yang paling mungkin; iman dipandang terkait dengan tindakkan; pemimpin kaum Muslim harus dipilih; dan menyuruh pada kebaikan dan menjauhi kemungkaran adalah kewajiban kaum Muslim. "Islam Kiri" menerima lima prinsip Mu'tazilah, dan berusaha menghidupkan kembali warisan Mu'tazilah. Dengan demikian "Islam Kiri" mengikuti Mu'tazilah sejak al-Ghazali menyerang ilmu-ilmu rasional dan mengunggulkan sufisme, serta mengaitkan Asy'ariyah dengan sufisme. Kita menerima Mu'tazilah yang menyerukan rasionalisme dan kebebasan, supermasi demokrasi dan alam. Kita juga menerima prinsip Khawarij, yang meyakini bahwa perbuatan merupakan cermin iman, dan karena itu menuntut agar kaum Muslim bertindak. Kita juga menerima Syi'ah, tapi dengan semangat baru, yang --setelah mewujudkan Revolusi Islam yang Agung di Iran-- mengurangi jarak antara Sunni dan Syi'ah dengan mencampakkan kredo bid'ah lama dalam Syi'ah. Asy'ariah bertanggungjawab atas keadaan kita selama sembilan abad. Ia membuat pemikiran keagamaan kita menjadi berat sebelah seperti ditunjukkan penguasa politik. Setiap upaya yang menyimpang dari pemikiran Asy'ariyah dianggap perlawanan terhadap kemapanan, murtad dan penghianatan. "Islam Kiri" juga punya hubungan dengan pengikut naturalisme seperti al-Jahiz, al-Nizham, dll. Mereka menyerukan agar kita kembali ke alam, mengakui hukum alam, dan memandang sifat-sifat alam sebagai tidak terpisah dari esensinya. Selama kita menolak alam, kita sebenarnya menunggu keajaiban atau mukjizat, kita mencari sesuatu yang luar biasa. "Islam Kiri" secara fundamental mengikuti Mu'tazilah, bukan campuran Mu'tazilah dan Asy'ariyah.
Dalam filsafat hukum Islam, "Islam Kiri" bukanlah aliran baru. Ia tetap bersandar pada aliran pemikiran fiqh klasik, namun secara selektif. "Islam Kiri" tidak mengikuti mazhab Hanafi, Syafi'i, atau Hambali. Walaupun ia tidak mendeskriminasikan mazhab-mazhab fqih antara yang satu dengan yang lainnya, ia menyerukan agar kaum Muslim menghidupkan kembali landasan Islam klasik.
Karena pendahulu kita melakukan ijtihad, kita pun melakukannya. Mereka manusia, seperti kita. Apa yang kita pertahankan adalah prinsip kesejahteraan kaum Muslim sesuai dengan yang dianut mazhab Maliki. Kita menerima pentingnya peran akal seperti dalam fiqih yang dikembangkan Abu Hanifah. Kita menerima kesatuan akal dan realitas seperti dalam fiqih yang dikembangkan mazhab Syafi'i. Kita juga mengikuti prinsip perlunya kembali pada sumber pertama seperti ditekankan Ahmad ibn Hambal, di mana kita menemukan spontanitas akal dan suatu pandangan tentang realitas dalam teks.
Tugas "Islam Kiri" adalah merekonstruksi semua teori hukum tradisional itu. Ijma' masing-masing zaman hanya berlaku bagi zaman itu. Ijtihad terbuka bagi setiap zaman. Kalau kita memandang hukum lebih penting dari realitas dalam memutuskan persoalan, itu berarti kita tidak menilai atas dasar kemaslahatan (kesejahteraan). Kemaslahatan adalah landasan ketiga hukum Islam. Kita melakukan ijtihad. Ini landasan keempat. Landasan pertamanya alQur'an:
"Inilah Kitab Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." (QS. 45:29).
Sedangkan Sunnah adalah landasan kedua. Dalam filsafat, "Islam Kiri" mengikuti jalan Ibn Rusyd karena ia tidak menundukkan akal pada iluminasi, ian tidak menyerahkan kehendak hukum alam pada kekuatan-kekuatan dari luar alam. Filsafat klasik yang rasional ang mengabdi pada kesejahteraan manusia dimulai al-Kindi. Kemudian, kecenderungan-kecenederungan alamiah dan rasional muncul. Ini landasan rekonstruksi masyarakat. Sayangnya, filsafat ini telah menjadi iluminasi utopis, di mana akal dianggap perlu memperoleh bantuan dari langit untuk melahirkan pengetahuan praktis. Dunia xemudian dipandang terdiri dari dua bagian: dunia langit dan dunia yang berada di bawahnya. Yang pertama otoritatif terhadap yang kedua. Manusia juga dibagi dua: tubuh sementara yang terkait dengan alam, dan roh abadi yang terkait dengan hal yang Ilahi.
Penyatuan manusia dengan demikian kehilangan makrianya di dunia. Padahal, masalah kita adalah penyakit, perumahan, makanan, dll. Semua ini datang dari tubuh yang sementara. Di pihak lain, kemelempeman, kesenangan, dll., dipandang datang dari roh yang abadi. Kebajikan teoretis menjadi lebih tinggi nilainya dibandingkan kebajikan praktis, dan kontemplasi menjadi lebih bernilai dari pada aktivitas dan produksi. Karena sufisme Ibn Sina dan al-Farabi, filsafat kehilangan dirinya. Karena itu Ibn Rusyd muncul. Ia merestorasi posisi akal pada akal, dan independensi alam pada alam. Ia menyerang ilmu-ilmu Asy'ariyah dan ilmu-ilmu sufi. Tapi kemunculan Ibn Rusyd hanya sebentar. Kesadaran peradaban kita tetap berat sebelah dan ditekan ke dalam satu pola. Kita masih menyerang ibn Rusyd sebagai orang yang tidak beriman. Di sini "Islam Kiri" menegaskan keterkaitannya dengan jalan rasional dalam filsafat Islam yang dimulai al-Kindi dan diikuti oleh Ibn Rusyd.
"Islam Kiri" menolak sufisme dan memandangnya sebagai musuh. Karena, salah satu penyebab Kemunduran kaum Muslim adalah pemujaan para sufi. Masalah ini telah ditelaah oleh Ibn Taimiyah, al-Kawakibi, dan Imam Khomeini. Sufisme lahir sebagai gerakan negatif menentang kemewahan, nafsu kekuasaan dan perjuangan dunia ini. Ketika dinasti Umayyah stabil, orang-orang saleh mengabaikan dunia ini. Mereka mencoba menyelamatkan roh, menjaga kcmurnian batin. Islam mereka ditransformasi dari gerakan horisontal dalam sejarah ke suatu gerakan vertikal di luar dunia, menjadi tujuan di luar sejarah, meskipun mereka berada dalam sejarah. Islam menjadi suatu kebenaran menurut pengikut kredo itu, walaupun syari'ah diimplementasikan oleh semua Muslim.
Jalan sufisme dibagi ke dalam tiga tahap: (1) memandang alam secara negatif dengan menahanan nafsu dan keinginan; (2) tahap di mana perjuangan lahir mentransformasi perjuangan batin, membuat individu berada di antara dua keadaan seperti kecemasan dan harapan, kesadaran dan ketidaksadaran, tiada dan ada; dan (3) peleburaan diri dan kesatuan dengan Tuhan melalui fantasi dan ilusi. Inilah titik puncak jalan sufisme. Sampai di sini, para sufi berperilaku seolah-olah kemenangan telah diraih, keadaan Islami telah terbentuk. Padahal, dunia belum berubah. Keadaan kita sekarang sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan para sugi. Keselamatan roh tanpa keselamatan dunia adalah kegagalan dan pelarian. Karena itu kaum Muslim sekarang terlibat dalam gerakan sejarah bagi perjuangan rakyat. Kita menderita karena nafsu, takut dan kelaparan. Sabar menyebabkan kita diam dalam sega-galanya, dan keyakinan menyebabkan kita mengabaikan rencana-rencana dan persiapan-persiapan masa depan. Karena peleburan diri (fana) dan kesatuan dengan Tuhan, kita dibawa ke alam fantasi. Kita hidup dalam dunia harapan dan mimpi, dan mengkhayalkan seolah-olah kita semua sungguh-sungguh masyarakat terbaik di bumi. Padahal kenyataannya bertolak belakang. Kita tidak menyuruh mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk untuk menjadi masyarakat terbaik. Kita adalah masyarakat yang tanahnya dimiliki oleh orang-orang asing, dan kekayaan masyarakat kita dirampas raja-raja dan para pemimpin. Peleburan diri adalah pemusnahan ke titik pengorbanan diri, dan sekarang hampir merupakan tindakan sia-sia. Padahal, bersatu dengan Tuhan adalah menerima syari'ah Tuhan, hukum Tuhan, dan transformasi wahyu ke dalam sistem demi dunia dengan aksi dan usaha keras, dan dengan gerakan masyarakat Muslim dalam sejarah.
"Islam Kiri" juga menemukan sumbernya dalam ilmu-ilmu rasional murni dari khazanah klasik kita. Ilmu-ilmu ini lahir karena akal, transendensi mampu mendorong akal ke yang tidak terbatas. Pendahulu kita mampu menemukan banyak teori akademis dalam pisika, kimia, kedokteran, dll., berkat penghargaan terhadap alam dan kontinuitas hukum-hukumnya. "Islam Kiri" ingin mentransfernya ke suatu tahap agar kita tidak tetap budak penemuan-penemuan bangsa-bangsa lain. Ilmu harus bekerja atas dasar akal dan pengamatan terhadap alam, bukan mentransformasi hasil ilmu dan penerapan hukum-hukumnya dari situasi ke situasi yang lain. "Islam Kiri" berakar dalam keyakinan dan ide ilmu-ilmu manusia yang ditemukan pendahulu kita. Tapi kita masih mengulang apa yang dikatakan para pendahulu kita, tanpa mengetahui landasan dan struktur teoretis ilmu-ilmu itu. Kalau kita mencoba mempelajari tahap-tahap sejarah, maka kita akan menciptakan suatu hukum sejarah baru yang berbeda dari yang dikemukakan Ibn Khaldun --yang menggambarkan empat tahap sejarah: lahir, berkembang, matang, dan runtuh. Ibn Khaldun hidup di penghujung revolusi pertama bangsa-bangsa Islam. Kita hidup di awal revolusi Islam kedua. Tugas kita adalah mentransformasikan reformasi keagamaan ke renaisans peradaban secara menyeluruh, dan mendorong bangsa-bangsa Islam agar menentukan nasib mereka sendiri dan mereka menjadi bagian gerakan sejarah.
"Islam Kiri" juga punya akar dalam ilmu-ilmu tradisional, dan menemukan makna kontemporer di dalamnya. Ia mampu mengembangkan ilmu sejarah, ideologi dan sistem ekonomi politik. Dalam hubungannya dengan ilmu Hadits, "Islam Kiri" lebih memberikan prioritas pada matan dari pada sanad. Kita mampu melampaui pendahulu kita dalam kritik matan, sehingga sesuai dengan akal, spontanitas, kemajuan adat dan pandangan kita. Para pendahulu kita menciptakan kribk lahir, kita mampu menciptakan kribik babn. Pentng bagi kita memberikan prioritas terhadap makna Hadits daripada pribadi rawi-nya; lebih penting bagi kita untuk memberikan prioritas pada sabda Rasul ketimbang pribadinya. Mengenai tafsir, "Islam Kiri" melampaui tafsir historis atas al-Qur'an. Kita mengemukakan tafsir persepsional yang membuat al-Qur'an mendeskripsikan manusia. Hubungan antara manusia terkait dengan manusia lain, dan situasi manusia adalah di dunia. Tafsir persepsional meletakan masyarakat dalam tatanan dan mengkonsolidasi landasan negara. Kita mengikuti tafsir Imam Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an. Kita menggabungkan tafsir objektif dengan mengumpulkan semua ayat yang berkaitan dengan satu tema; kemudian mengkonstruksi konsep manusia yang utuh, sistem sosial dan sifat dasar negara bagi dunia menurut Islam. Kita mendapatkan tafsir revolusioner dan mentransformasikan pengetahuan iman ke dalam ideologi revolusioner.
Kita menemukan hubungan antara Tuhan dan tanah dalam ayat-ayat al-Qur'an seperti: "Dialah Tuhan di langit dan di bumi," (OS. 43:84). Dengan landasan ini kita harus membebaskan tanah kaum Muslim atas nama Tuhan dari pendudukan Zionisme yang bersandar pada pandangan keagamaan (Yahudi), di mana manusia dan Tuhan menyatu dalam "tanah yang dijanjikan." Kita menemukan hubungan antara tauhid, kesatuan ummah dan kenabian dalam gerakan sejarah, yakni hubungan antara manusia dan sejarah, revolusi dan tanah, gerakan dan nasib agar tidak ada orang yang menyalahkan kepasifan dan keterbelakangan kita, dan tak ada orang yang membawa peradabannya menjadi peradaban manusia satu-satunya.
Hakim kita bukan hakim tentang menstruasi seperti yang disindir Imam Khomeini. Tapi kita berkepentingan dengan regulasi perdagangan, jihad, perang dan sistem sosial-ekonomi-politik. Kita menginginkan tatanan Islam mengenai masalah itu. Kita ingin menyatakan posisi Islam dalam konfrontasinya dengan kolonialisme, Zionisme, kapitalisme dan keterbelakangan. Selama ini, kita memandang ritual seolah-olah ia tujuan. Maka, kita harus menafsirkan kembali ritus-ritus dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Ikrar bagi kita bukan hanya "tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah." Ikrar adalah kesaksian atas kejadian zaman dan apa yang terjadi di sekitar kita. Ini mendorong ikrar yang aktif. Orang yang mempunyai ikrar yang aktif menjadi saksi mata atas ketidakadilan dan kekuasaan yang menindas. Karena itu, pengakuan "kecuali Allah" dalam kesaksian kita berarti menghancurkan pendindas-penindas di dunia ini.
Ibadah harus membentuk persepsi. Zakat adalah kerjasama antara pemilik dan yang tidak memiliki kekayaan dalam tragedi minoritas yang kaya dan mayoritas yang miskin. Puasa harus menangkap penderitaan, rasa lapar dan haus orang lain. Haji adalah dialog mengenai masalah-masalah yang penting bagi kaum Muslim di seluruh dunia setahun sekali. Kaum Muslim adalah satu seperti halnya Tuhan.
"Islam Kiri" bukanlah manifestasi politik sebagaimana yang dikandung dalam arti kata Kiri. Ia merupakan manifestasi peradaban Islam. Ia menciptakan tempat bagi rasionalisme, alam, kebebasan dan demokrasi dalam khazanah kita, yang semua ini diperlukan bagi zaman kita. "Islam Kiri" menelaah dua dimensi yang hilang dalam khazanah klasik kita, yang menyebabkan krisis dalam kesadaran kontemporer kita, yakni manusia dan sejarah. Kita telah membungkus manusia dan menjauhkannya dalam wujud yang khusus dan hukum yang murni, yang hidup di akhirat, di luar dunia, yang hampa pikiran dan dunia yang kita alami.
Tantangan bagi Peradaban Barat
"Islam Kiri" tampil menentang peradaban Barat, dan berusaha untuk mengggantinya. Al-Afghani memusatkan perhatiannya pada imperialisme militer pada zaman penjajahan. "Islam Kiri" memusatkan perhatiannya pada imperialisme budaya, yakni serangan terhadap kebudayaan kita dari dalam dengan memusnahkan afiliasinya dengan komunitas (ummah) sehingga komunitas menjadi tidak berakar. "Islam Kiri" membela rakyat komunitas Islam, dan menentang westernisasi yang pada dasarnya bertujuan untuk memusnahkan budaya-budaya pribumi untuk menyempurnakan hegemoni budaya Barat. Meskipun rakyat terbelakang dilihat dari standar Barat, mereka masih mempertahankan unsur-unsur kekuatannya dengan standar budaya mereka yang khusus.
Tugas "Islam Kiri" adalah mendefinisikan kuantitas Barat, yakni mengembalikannya ke batas alamiahnya dan mengakhiri mitosnya yang mendunia. Barat berada pada pusat peradaban dunia, dan ingin mengekspor peradabannya kepada bangsa-bangsa lain. Barat menyediakan model pembangunan sebagai alat untuk menguasai dan menghilangkan kekhasan bangsa-bangsa lain. Akibatnya bangsa- bangsa non-Barat tidak mampu menentukan nasib dan menguasai kekayaan mereka sendiri. Walaupun peradaban Barat mengembangkan kebudayaannya dengan mengambil dari kebudayaan bangsa-bangsa lain, ia telah mentransformasikannya ke dalam rasisme. Ini merupakan rasisme yang menjadikan satu-satunya model bagi peradaban. Model yang lain, dengan demikian, dicap terbelakang dan primitif, dan harus dihilangkan agar semua bangsa-bangsa mengikuti model peradaban satu-satunya ini (Barat). Barat mulai membangun peradabannya dari Yunani dengan mengenyampingkan semua peradaban Timur yang mendahului dan mempengaruhi peradaban Yunani. Zaman pertengahan Barat dianggap sebagai zaman kegelapan dan keterbelakangan, tapi merupakan zaman keemasan kita. Barat menyebut lima abad terakhir sebagai zaman modern, dan menganggapnya sebagai puncak peradaban. Zaman modern ini bagi kita merupakan periode stagnasi di mana pasangan Asy'ariyah dan sufisme menguasai kesadaran kita.
Krisis abad ke-20 di Barat bagi kita adalah awal reformasi. Tugas "Islam Kiri" adalah mengembalikan peradaban Barat pada tempat kelahiran, lingkungan dan sejarahnya. Ini untuk menghilangkan hambatan bagi berkembangnya peradaban non-Barat. Dan model-model bagi kemajuan, dengan demikian, bisa menjadi banyak dan berviariasi.
Tugas "Islam Kiri" adalah mendorong peradaban Barat kembali ke Barat; menjadikan Barat sebagai tema studi khusus bagi peradaban non-Barat. Lebih jauh ia akan melahirkan suatu disiplin baru, "Orentalisme", untuk menandingi "Oksidentalisme". Orientalisme sendiri menghadirkan alam pikiran, pandangan dunia dan motivasi Barat yang terselubung ketimbang studi tentang objeknya.
Karena pengaruh para orientalis, kita telah mengabaikan pembela otentisitas kita. Tapi berkat akumulasi peradabannya, peradaban Islam kita dapat diklaim kembali. Ini dapat dipandang sebagai reformasi agama dan kebangkitan akal. Tapi apa yang mereka kaji dalam upaya-upaya humanistik mereka yang khusus bisa jadi Islam.
Studi peradaban Eropa sebagai objek khusus yang berdiri sendiri dapat dilakukan dari dua arah: perkembangannya dan strukturnya. Peradaban Islam adalah pusat melingkarnya ilmu-ilmu. Sementara peradaban Barat bersifat reaksioner dalam arti bahwa ia tertarik dengan ilmu-ilmu yang membentuk reaksi terhadap dan menolak pusatnya.
Kesadaran Barat dibentuk oleh dua sumber: Yunani-Romawi dan Yahudi-Kristen. Di samping itu ada sumber ketiga, yakni lingkungan Eropa yang geografis, manusiawi, dan beradab, yang mencakup kebiasaan, tradisi, hal-hal geografis dan yang secara keagamaan ada dalam bangsa dan tanah itu. Tugas kita adalah me!akukan studi atas sumber-sumber peradaban Timur seperti india, Cina, Persia, dan Mesir, subjek-subjek yang asal-usulnya disembunyikan Barat.
Memasuki perdebatan soal sumber-sumber atau asal-usul berarti menyajikan hakikat akumulasi peradaban pada kelahiran kesadaran Eropa di Romawi dan Yunani. Mengenai asal-usul Yahudi-Kristen, esensi agama Kristen dalam Injil dihapus, juga dalam Yahudi Ortodoks. Dengan demikian, karena sifat dasar bangsa-bangsa Eropa yang barbar, dan karena mereka lebih dekat dengan Romawi yang materialistik ketimbang Yunani yang rasional, maka asal-usul Yunani peradaban Eropa adalah Ortodoksi Romawi. Rasisme Yahudi secara historis telah merasuk ke dalam kesadaran Eropa. Dari sanalah rasisme peradaban dipersubur. Alkitab, dengan dua Perjanjiannya (Lama dan Baru), menjadi sumber kesadaran Eropa-Yahudi dan Kristen-Eropa. Unsur- unsur dari dua kesadaran itu telah menyatu pada pengorbanan bangsa-bangsa non-Eropa.
Dalam pemikiran Eropa-Kristen, kenabian disempurnakan dengan kedatangan Yesus Kristus. Sedang dalam kesadaran Eropa-Yahudi, kenabian disempurnakan dengan pendirian negara Zionis. Tugas kita adalah menyatakan adanya pengaruh dari kedua sumber ini terhadap peradaban Eropa. Kesadaran Eropa berusaha menguasai bangsa-bangsa dan merampas kekayaan umat Islam. Asal-usul Eropa yang ketiga mengandung sifat dasar yang barbar, berwatak materialistik dan sensasional, buas dan rasis. Konflik-konflik Eropa berubah menjadi peperangan kolonial. Kekuasaan dunia mencerminkan sumber yang ketiga. Ini menjadi sejarah agama dan esensinya terletak dalam peradaban
Barat. Ini adalah sejarah agama dan esensinya bagi semua peradaban yang lain. Peradaban Eropa berkembang dalam tiga tahap: zaman penolakan terhadap greja, zaman skolastik, dan zaman modern. Tahap yang pertama penting bagi kita karena teks-teks keagamaan, kredo agama Kristen, pemikiran tentang bangsa yang terpilih dalam Yudaisme, dll., dikritik. Tugas kita adalah melakukan studi atas periode ini untuk mengetahui kejadian-kejadian yang dibicarakan Islam. Studi mengenai hubungan antara agama baru dan filsafat Yunani- Romawi juga penting buat kita. Bagaimana peradaban kuno (filsafat Yunani-Romawi) menaklukan agama baru (Kristen)? Bagaimana ia memaksakan dirinya pada agama baru? Sebaliknya, Islam mengadopsi filsafat ini sebagai alat untuk reformasi yang tanpa wahyu kehilangan esensi dan kandungannya. Zaman skolastik di Barat merupakan zaman keemasan kita dalam revolusi peradaban kita yang pertama. (ni meliputi bagimana munculnya kesadaran Eropa lewat transfer filsafat dan ilmu-ilmu dari kita. Rasio Eropa dalam renaissans pada abad ke-14 diarahkan pada alam langsung, supaya ia bisa berdiri sendiri (lepas dari peradaban sebelumnya, peradaban Islam).
Kita masih mengikuti kecenderungan ini dalam dua abad terakhir. Pada abad ke-15 reformasi muncul. Ini merupakan zaman ketika kita mulai menemukan Islam kembali. Zaman kebangkitan terus berlalu sampai abad ke-17, dan para pemikir serta ilmuan mejadi martir ketika berjuang melawan dua otoritas: agama dan politik. Kesadaran Eropa berani mengarahkan dirinya pada manusia dan alam.
Kita belum memulainya secara terorganisir dan secara fundamental, walaupun kita punya keinginan menetapkan kebangkitan. Zaman modern mulai pada abad ke-17 di Barat. Ini merupakan zaman rasio. Rasio dan alam dapat menjadi sumber persepsi dalam kesadaran Eropa. Kesadaran Eropa menetapkan manusia sebagai pusat dunia. Ia mengikrarkan manusia murni, rasio, alam dan kebebasan. Manusia dipandang sebagai mahluk yang mempersepsi kebenaran, dan merealisasikan kebenaran dengan keinginannya sendiri. Maka, kesadaran Eropa secara otomatis mampu meneliti Islam. Pada abad ke-18, rasio ini berubah menjadi kekuatan bagi berlangsungnya revolusi sosial dan politik. Dengan demikian rasio mampu menguasai alam sampai pada abad ke-19, kemudian ilmu muncul. Dan akhirnya manusia muncul di abad ke-20, di mana krisis peradaban mulai teriadi. Kesadaran Eropa mulai menghancurkan apa yang dibangunnya, dan sekarang ia berada untuk menghancurkan dirinya.
Walaupun rasionalisme Eropa menang, banyak celah yang memperlemah kemenangannya. Maka ia berubah menjadi objek-objek yang menentang dirinya dalam rasionalisme kontemporer. Pertama, rasionalisme mencurahkan perhatiannya pada bentuk tanpa isi. Akibatnya, muncul ekserimentalisme Eropa yang menentang rasionalisme tersebut, yang lebih menyukai isi daripada bentuk, materi daripada rasio. Kedua, rasionalisme berubah dari kritik fundamental ke penelokakan prinsip, kemudian ke pengancuran dirinya secara terus-menerus. Rasionalisme menjadi penghancur dirinya sendiri.
Ketiga, rasionalisme jatuh ke dalam transformasi yang rahasia dan iman ke tingkat rasio dan bukti. Kemudian, asosiasi ideal muncul atas nama gereja, dan keabsolutan atas nama Tuhan. Descartes dan Kant membawa Injil baru dengan agama Kristen yang rasional, ideal, dan etis. Keempat, rasionalisme memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri, tubuh manusia Eropa. Ia mengikrarkan humanisme yang terbatas. Maka rasionalisme ini menolak rasio bangsa-bangsa non-Eropa. Kelima, rasionalisme Eropa belum menghasilkan jejak aktual apa pun, ia hanya mengubah politik secara formal. Pada hakikatnya bangsa-bangsa Eropa masih Romawi. Keenam, rasio berubah ke alam aktivitas bebas, kemudian ke datam kemapanan sistem liberal yang mendukung sistem kapitalis, yang pada gilirannya mengarah pada monopoli dan ublisasi.
Setelah proses ini, rasio menjadi hampa nilai. Eksperimentalisme Eropa tidak berlanjut, walau kemenangannya luar biasa besar. Ada beberapa alasan. Pertama, eksperimentalisme ini betul-betul menjadi eksperimentalisme yang sentmentil, di mana setiap yang terlihat adalah palsu. Kebenaran tidak terletak dalam rasio tapi dalam indera. Pengalaman bertentangan dengan rasio. Dengan demikian, walau kecenderungan komperhensif muncul, rasio Eropa mempunyai kecurigaan dan kedangkalan.
Kedua, eksperimentalisme mengubah teori murni dalam pengenalan ke dalam teori tentang watak nasional. Materi menjadi sumber nilai, dan kemudian hanya materi yang merupakan nilai. Ini materialisme Eropa. Ketiga, materialisme ini menyatakan watak natural bangsa-bangsa Eropa, akarnya terletak dalam sejarah suku Jerman dan Anglo-Saxon, yang tidak mempunyai lahan untuk tumbuhnya rasionalisme dan idealisme. Keempat, peperangan terjadi di antara bangsa-bangsa Eropa karena materi. Kelima, cinta pada materi berubah menjadi utilisasi yang dari luar, yang menyebabkan terjadinya kejahatan terbesar dalam sejarah manusia, yakni penjajahan terhadap bangsa-bangsa lain. Keenam, rencana industri bangsa Eropa berakhir dengan kegagalan setelah krisis energi. Ini merupakan awal penguasaan mereka terhadap sumber-sumber alam dari bangsa-bangsa non-Eropa, dan awal terjadinya krisis nilai. Dan ini diakui dengan munculnya kelompok-kelompok penentang di masyarakat-masayarakat Eropa. Dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, kisruh antara kecenderungan rasional dan eksperimental masih kacau. Juga ada krisis dalam perkembangan manusia Eropa yang membela kebebasan manusia dan manusia sebagai nilai dalam dirinya sendiri. Pertama, manusia Eropa adalah manusia intensional, bukan manusia rasional, dan ia rentan terhadap rangsangan dari luar, eksistensial dan dibentuk dari daging. Kedua, ia adalah manusia yang relatif dibatasi, yang berubah sesuai dengan perubahan lingkungannya. Ketiga, manusia Eropa adalah manusia individual dan egoistik, tidak sosial dan tidak altruistik.
Keempat, ideologi manusia Eropa tetap teoritis, tidak praktis. Ia menyatakan harapan kesadaran dan cita-cita Eropa yang mengagungkan kemanusiaan, tapi realitas Eropa didominasi sektarianisme dan tribilaisme. Kelima, manusia Eropa bersifat kebangsaan, dan masing-masing bangsa menyatakan dirinya mewakili manusia Eropa. Ada dua perang dunia dan dua perang Eropa. Keduanya berlangsung di antara bangsa-bangsa Eropa sendiri. Keenam, manusia, menurut pandangan Eropa, ternyata adalah ras pubh sesuai dengan bangsa-bangsa Eropa.
Bersamaan dengan itu, bangsa-bangsa non-Eropa menghadirkan model yang lain bagi humanisme yang mengarah pada pembebasan dan keadilan. Dengan demikian ia menghadirkan jenis humanitas menyeluruh yang baru. Kesadaran Eropa terletak pada cogito Descartes, dan ujungnya adalah pada cogito Husserl. Kedua, kesadaran Eropa mencoba segalanya, dan ia mencampakan setiap kewajiban. Situasinya tidak stabil. Ketiga, ia kehilangan pusat konsentrasinya, karena itu tidak mungkin mengarahkan dirinya ke pusat.
Keempat, ia menolak segala sesuatu setelah diuji dan dibantah. Akhirnya, nihilisme total. Kelima, kesadaran Eropa menangkap angin Timur, ia menyadari dan tergugah dengan Islam setelah Revolusi Islam yang Agung di Iran. Bangsa-bangsa non Barat menjadi pelahir kesadaran baru yang mewariskan sesuatu yang paling agung yang membosankan kesadaran Eropa, yakni "Filsafat Pencerahan". Keenam, sebaliknya, kesadaran Eropa telah mencapai ujungnya, dan merasakan krisis nilai, krisis dalam sistem sosial dan ilmu-ilmu kemanusiannya. Filosof Barat mulai menyatakan kejatuhan Barat, pembalikan nilai-nilai, kehampaan pikiran, keilahan materi dan nihilisme absolut.
Kita mengawali hidup baru yang kita sebut reformasi, renaissans, pencerahan, perubahan sosial dan revolusi. Kita secara praktis mernpertahankan kemerdekaan nasional dan kebebasan bangsa-bangsa, dan kita membentuk ideologi-ideologi non-blok dan pembebasan. Jika ada penjelasan dalam kesadaran Eropa dalam lima abad terakhir, kita akan menggalinya. Peradaban akan kembali ke Timur, dan peradaban Islam akan menemukan tugasnyadiTimur. Karena kesadaran Eropa memulai revolusinya pada abad ke-15 dan sampai ke penghujung abad ke-20, kita akan memulai revolusi kita dari abad ke-15 H. sampai tujuh abad kemudian. Tugas kita adalah menyempurnakan reformasi keagamaan dan meneruskan renaissans bagi zaman baru kita yang akan datang. Generasi mendatang kita akan membentuk ilmu. Ini tidak berarti meniru Barat, namun kita mencoba merealisasikan tahap yang lainnya yang belum kita capai.
"Islam Kiri" bukan hanya pandangan politik tentang realitas, tapi juga pandangan budaya tentang sejarah bangsa-bangsa. "Islam Kiri" tidak bersandar pada cara-cara bicara atau pengungkapan, melainkan mencari metode analisis yang sangat akademik dan ilmiah.
Realitas Dunia Islam
"Islam Kiri" memberikan suatu gambaran situasi di dunia Islam tanpa mengikuti suatu metode bimbingan atau nasehat. Realitas menampakan dirinya, seperti statistik. Pemikiran keagamaan kita bersandar pada metode yang mentransfer teks ke realitas.
Pertama, teks bukanlah realitas, ia hanya deskripsi linguistik tentang realitas; maka ia tidak menjadi bukb tanpa kembali ke landasannya dalam realitas. Kedua, teks mensaratkan iman terhadapnya, masalahnya siapa yang beriman pada teks itu. Ketiga, teks terletak pada otoritas kitab, bukan pada otoritas akal. Bukti tentang otoritas bukanlah bukti. Keempat, teks adalah bukti bagian luar yang datang dari luar realitas. Kelima, teks membutuhkan penafsiran atas sauhnya; tapi tidak akan ada arti yang benar bagi suatu teks tanpa sauh ini. Keenam, teks bersifat sepihak (unilateral), dan ia bersandar pada banyak hal dari teks-teks lain. Ketujuh, teks bersandar pada pilihan, pilihan mengikuti kecenderungan dan kepentingan. Kedelapan, kondisi- kondisi sosial dari penafsir adalah dasar dari pilihan atas teks. Kesembilan, teks mengacu pada keyakinan masyarakat, pujian dari perasaan-perasaan keagamaan orang yang berlebihan dan pengakuan dari lawan. Kesepuluh, metode teks lebih dekat pada peringatan dan bimbingan, ia mempertahankan Islam sebagai suatu prinsip dari pada kaum Muslim sebagai ummah. Akhirnya, metode teks memberikan pernyataan, tapi bukan kuantitas. Metode "Islam Kiri" mendefinisikan kuantitas dengan statistik sehingga realitas bicara sendiri.
Kita menggunakan angka-angka untuk menyebarkan kekayaan kaum Muslim kepada rakyat komunitas Muslim (ummah). Kita sarjana tentang masyarakat, ekonomi, sejarah, dan hukum, yang tidak hanya bersandar pada teks tradisional. Kita hakim dalam pengertian klasik; para hakim klasik mengetahui realitas dan menghukuminya. Kita tradisionalis tapi untuk zaman sekarang; apa yang kita asumsikan adalah tugas generasi ini, bukan seluruh generasi. Dengan demikian kita te tarik dengan semangat zaman, dan tertarik dengan ungkapan populer, biografi para pejuang, nyanyian rakyat, dll, karena semua itu merupakan bagian dari sumber nilai. Dari sini kita mendefinisikan pandangan dunia mereka dan melukiskan struktur-struktur pikiran mereka. Tujuan studi ini adalah mempertahankan kaum Muslim dan memurnikan Islam dalam pikiran mereka.
"Islam Kiri" mengarahkan energinya ke masalah-masalah fundamental zaman ini. Dari luar: imperialisme, Zionisme, dan kapitalisme. Dari dalam: kemiskinan, penindasan, dan keterbelakangan. Sejak zaman al-Afghani, dan tentunya sejak Perang Salib, imperialisme merupakan masalah yang membakar. Kemudian, imperialisme adalah Perang Salib baru. Imperialisme sekarang adalah cara petualangan ekonomi multinasional dan westernisasi kebudayaan. Dalam hal budaya, imperialisme mematikan semangat kreatif bangsa-bangsa, dan mencabutnya dari akar sejarah mereka.
Basis militer asing tersebar di mana-mana di dunia Arab sekarang, dari Maroko sampai Timur Arab. Juga sejumiah bangsa Muslim tetap berada di bawah pengaruh super power. kekayaaan dunia Islam masih di tangan perusahan-perusahaan monopolistik, dan kita mengimpor pengetahuan ilmiah dari Barat. Tapi yang paling berbahaya adalah imperialisme budaya. Barat menginginkan agar warisan bangsa- bangsa historis lemah, kemampuan kreatifnya dibelenggu, dan kebudayaan mereka diubah menjadi budaya musium, hanya untuk studi. Dengan berubahnya bangsa-bangsa Islam menjadi minoritas, mereka menjadi budak Barat. Tugas "Islam Kiri" adalah terus-menerus mengingatkan akan model kolonialisme baru, rasisme Barat yang tersembunyi dan Perang Salib historis.
Zionisme masih merupakan kekuatan yang kokoh yang menentang Islam dan kaum Muslim. Sasarannya bukan hanya menguasai tanah, tapi juga menyebarkan pemikirannya ke kalangan intelektual Islam- Arab, dan mengetahui pemikiran mereka untuk menghancurkannya. Zionisme menguasai semangat kita, dan Zionisasi dunia dilakukan di jantung dunia Islam. Islam melarang bersahabat dengan keturunan Israel: "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi walimu; sebagian mereka adalah wali dari sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim" (QS. 5:51). "Islam Kiri" sejalan dengan Saudara-Saudara se-iman (Brothers in Goa) untuk menolak dan menentang Zionisme. Ini berarti bahwa perdamaian dengan anak-anak Israel dilarang. Kita mengatakan ini sebagai hakim Islam dengan tanggungjawab sebagai hakim.
Bahaya ketiga yang datang dari luar adalah kapitalisme. Bahaya ini tidak hanya bagi yang mengikutnya, tapi juga kita dalam masyarakat Islam. Kapitalisme terkait dengan masyarakat kelas, dan kekuasaan terletak pada orang yang menguasai modai. Ia tidak membatasi industri militer yang merusak, karena indusbri ini mendukung dan menguntungkan mereka yang mengabdi modal. Semua ini berarti kemiskinan bagi yang miskin, dan perlakukan istimewa bagi yang kaya. Islam menolak akumulasi kapital oleh sekelompok orang: "supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu" (QS. 59:7). Islam menolak hak milik istimewa, masyarakat kelas, monopoli dan riba; ia bicara tentang kesamaan, kooperasi, dan solidaritas. Sayang kita menyebarkan kata "Sosialisme Islam", padahal kita melihat dalam Islam perlawanan menentang kapitalisme lokal dan dunia. Kita memerlukan pembangunan sosial atas dasar kesamaan dan keadilan sosial, dan hak maksimum bagi yang miskin.
Bangsa-bangsa Muslim termasuk di antara bangsa-bangsa miskin di dunia. Walaupun al-Qur'an mengatakan: "dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak mempunyai apa-apa yang tidak mau meminta." (QS. 70:24-25)
Dan walaupun kita satu ummah, kita dalam kenyataannya dua ummah: yang miskin dan yang kaya. Tugas "Islam Kiri" adalah membagikan kekayaan di antara kaum Muslim. Pengurangan jumlah keturunan kita bukanlah penyelesaian masalah kemiskinan seperti yang dianjurkan para kolonialis dan Zionis. Yang terpenting adalah mengambil hak-hak kaum yang miskin dari kaum yang kaya, dan membagikan kekayaan negara-negara Islam dari mereka yang memiliki segala-galanya ke yang tak punya apa-apa.
Tidak ada bangsa yang menderita despotisme dan penindasan seperti kita. Kaum Muslim nampak seperti yang ditulis Barat mengenainya, yakni "despotisme Timur". Kita tidak punya sistem demokrasi atau kebebasan. Komitmen pada hak asasi manusia didatangkan dari Barat sehingga Barat dapat menelib kondisi-kondisi orang yang kita penjara. Dalam masyarakat kita tidak ada ukuran bagi semangat dan kebebasan pabriotik. Kecuali, mereka yang berkuasalah yang menjadi patriot-patriot. Para pemimpin memanipulasi kesadaran nasional lewat media komunikasi. Akibatnya, bangsa-bangsa Islam tidak lagi mampu mengubah opini orang lain. Bahkan jika faksi oposisi muncul, ia dicurigai sebagai tidak setia, penghianat, murtad. Tugas "Islam Kiri" adalah mempertahankan kebebasan berbicara dan memperkuat demokrasi. Dengan begitu, Israel tidak akan lagi menjadi "oase demokrasi" satu-satunya, karena ia tersebar luas, dan komite "hak asasi manusia" tidak akan lagi dikirim ke kita. Ternyata "keterbelakangan" merupakan sifat umum masyarakat kita. Itu berarti keterbelakangan menyeluruh dalam struktur sosial dan dalam pandangan-pandangan masyarakat. Beberapa masyarakat Islam kita seperti di Sudan, India, Pakistan, Iran, Irak, dan Turki masih bersifat kesukuan. Buta huruf menyebar, epidemik juga meluas sebagai akibat dari lingkungan yang kotor. Yang justru ironis, agama mereka bersandar pada kesucian dan air wudhu. Ini keterbelakangan budaya dan peradaban yang terkait dengan pandangan dunia dan perilaku masyarakat serta kondisi sosial ekonomi.
Keterbelakangan dalam pemikiran menampakkan pandangan dunia kita yang mendua --kita berada dalam satu sisi yang kuat, kemudian kita merasa senang dengan kehancuran sisi yang lainnya. Semua krisis kita datang dari sisi ini. Apa yang menentukan pandangan kemenyatuan dan tauhid adalah mengambil kembali dunia dan pusat gravitasi dunia bagi dunia. Pandangan piramidal juga menunjukkan pandangan dunia kita. Ia merupakan basis birokrasi dan kelas dalam masyarakat kita. Juga keterbelakangan nampak dalam kemunduran akal di hadapan "tabu-tabu" seperti Tuhan, kekuasaan dan_seks. Kita membiarkan tabu-tabu ini hidup demi kepuasan sentimen kita. "Islam Kiri" berusaha menemukan tempat ummah dalam sejarah, dan mentransformasikan bangsa-bangsa Muslim dari kuantitas ke kualitas. Pekerjaan "Islam Kiri" di awal abad ke-15 H. adalah sebagai berikut.
Pertama, mewujudkan keadilan sosial dalam ummah melalui firman al-Our'an. Kedua, membangun masyarakat bebas dan demokratis. Ketiga, membebaskan Palestina dan mengusir kolonialisme dari dunia Islam. Keempat, membangun kesatuan Islam yang menyeluruh mulai dari Mesir, kemudian lembah sungai Nil, kemudian Mesir dan Syria, ... dan akhirnya ummah. Kelima, merumuskan kebijakan nasional yang bebas dari pengaruh super power, yakni kebijakan "bukan Barat dan bukan Timur". Keenam, mendukung revolusi kaum yang tertindas; revolusi mereka adalah revolusi Islam.
Agama dan Revolusi
Tugas "Islam Kiri" adalah meneliti unsur-unsur revolusioner dalam agama. Agama adalah apa yang kita miliki dalam tradisi yang asli; revolusi adalah hasil zaman kita. Dan dalam agama sendiri ada revolusi. Para nabi adalah para revolusioner dan sekaligus reformis. Revolusi tauhid menentang kemusyrikan dibawa Nabi Ibrahim; revolusi semangat oleh Nabi Isa, revolusi orang miskin, budak, dan orang-orang yang malang dibawa Nabi Muhammad.
Tauhid mempunyai fungsi praktis untuk menghasilkan perilaku dan iman yang diarahkan pada perubahan kehidupan masyarakat dan sistem sosialnya. Para nabi muncul dan melakukan revolusi untuk membuat reformasi ke arah kondisi-kondisi yang lebih baik. Para nabi adalah pendidik kemanusiaan untuk mencapai kemajuan dan kesempurnaan. Akhir kenabian adalah bahwa kemanusiaan menjadi kemerdekaan akal, dan ia mulai bergerak sendiri ke arah kemajuan.
Banyak revolusi dalam sejarah kita: revolusi al-Qaramithah, Mahdi di Sudan, Sanusiyah di Libya, Islam di Aljazair dan Jihad ikhwan al-Muslimin. Tugas "Islam Kiri" adalah membawa revolusi ini. Sayangnya pemikiran yang menyembunyikan ide-ide revolusioner itu justru telah menang. "Islam Kiri" menmpunyai akarnya dalam revolusi-revolusi agama dalam masyarakat manusia. Banyak revolusi dalam sejarah Yudaisme dan agama Ktisten. Revolusi agama tidak terbatas hanya pada tiga agama monoteis, juga dalam agama-agama lain: revolusi Budha di Vietnam, revolusi Konfusianis di Cina, dan revolusi-revolusi lain di Afrika Selatan. Gerakkan revolusioner agama-agama telah diklasifikasikan ke dalam messianisme, milleniarisme dan kharisma dalam sejarah agama dan sosiologi agama. Tapi analisis ini masih berputar di sekitar wilayah agama Kristen, belum mampu menyentuh bentuk revolusi Islam, yakni revolusi tawhid yang tidak membutuhkan gambaran Messiah bagi pembebasan. Inilah yang berusaha dikemukakan "Islam Kiri".
Di Barat telah muncul kecenderungan baru dalam teologi yang mengambil "revolusi" sebagai suatu objek studi, dan disebut "Teologi Revolusi". Ia telah menjadi salah satu aspek penting darf pemikiran keagamaan di zaman modern. Teologi menjadi pengetahuan rakyat, dan menjadi pengetahuan revolusi rakyat di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Realitas revolusioner sendiri memasukan teolog-teolog bagi masyarakat-masyarakat bersagama. Beberapa dari mereka mengambil revolusi sebagai subjek studi, dan beberapa yang lain terlibat dalam revolusi itu sendiri. Agama adalah pengetahuan, tindakan, tauhid dan kesyahidan.
Kesatuan Nasional
"Islam Kiri" bermaksud mengajak dialog semua pihak dalam dunia Islam. Ia bukan sekte baru, tapi berusaha menciptakan kesatuan di antara kaum Muslim sesuai dengan tuntutan zaman, seperti kebebasan, keadilan, dan kemajuan. Kesatuan pemikiran adalah prasarat bagi kesatuan ummah. Pertama, "Islam Kiri" berseru kepada "Saudara-Saudara seiman" dalam jurnal al-Da'wah. Sejumlah penulis jurnal ini telah mengembangkan kesadaran akan dunia Islam, tapi kebanyakan tetap berada dalam tradisi. Kita menyerukan agar ada dialog antara mereka dengan kita. Kita boleh berbeda tapi saling menghormati dalam butir-butir pemikiran yang berbeda. Perbedaan kita mungkin formal, tidak esensial. "Saudara-Saudara Muslim" menyajikan kecenderungan-kecenderungan yang sesungguhnya di antara kita. Mereka melakukan jihad melawan kolonialisme di Palestina dan Suez. Terjadi konflik yang paling keras antara mereka dan revolusi Mesir. Apa yang mampu mereka lakukan adalah mendukung rakyat dalam revolusi, tapi mereka masih tidak mempunyai koordinasi politik untuk memobilisasi rakyat. Semangat revolusi ini mengulang penafsiran tradisional sehingga mereka mewujudkan objek-objek revolusi dalam kebebasan dan keadilan. Kita tak mengganti siapa pun dengan orang yang tidak beriman dan kita berharap tidak ada orang menggantikan kita dengan orang yang tidak beriman, tapi kita berseru demi kesatuan nasional minimum antar kita dan mereka. Nabi mampu melakukan dialog dengan rakyat dan mampu melakukan pendekatan. Ini hanyalah koalisi politik karena kepentingan yang mendesak, bukan kesatuan nasional bagi gerakan pembebasan nasional melawan imperilisme Barat. Kedua, kita menghimbau secara damai "Saudara-Saudara sebangsa" (kaum Marxis, Nasseris dan Liberalis) untuk berdialog. Kita bisa sepakat dalam cita-cita, yakni kebebasan, demokrasi, dan keadilan sosial. Kita semua terlibat dalam memperkuat kesadaran kelas para pekerja dan dalam pembentukan barisan depan revolusioner. Kaum Nasseris bisa mencapai implementasi sosial yang terbesar dalam sejarah modern kita. Nasserisme juga membangun basis gerakan revolusioner dan juga telah memberi sumbangan bagi gerakan-gerakan revolusioner di Dunia Ketiga. Kolonialisme Dunia menghubungkan Nasserisme dengan kekalahan tahun 1967. Nasserisme masih hidup dalam sentimen rakyat dan nampak dalam getaran revolusi Islam di Iran.
"Saudara-Saudara seiman" jangan menolak sisi progresif dalam khazanah kita. Kemajuan adalah tuntutan zaman kita karena masyarakat kita terbelakang. Banyak tulisan tentang kemiskinan, kekayaan, perbankan dan revolusi dalam Islam. Mengapa mereka yang mencurahkan perhatiannya pada yang miskin dan orang-orang yang tersingkir menjadi Marxis? Mengapa mereka yang menyerukan kebebasan dan demokrasi menjadi Komunis? Karena kita kehilangan substansi Islam. Kita hakim, mereka teolog, kita memusatkan perhatian pada syari'ah
Mereka memusatkan perhatian pada iman, kita tradisionalis dalam hukum Islam, mereka tradisionalis dalam agama. Mengenai "Saudara-Saudara sebangsa" (kaum Marxis), mereka tidak menolak "Islam Kiri". Kita semua revolusioner-revolusioner nasional yang terkait dengan warisan ummah, maka kita tidak membutuhkan kata-kata filsafat Barat apa pun. Kita semua bersaing untuk membela yang tertindas. Revolusi sekular yang mereka tunjukkan adalah bagian dari revolusi Islam, karena Islam komprehensif, ummah, mencakup peradaban dan sejarah, dan identitas yang kuat.
"Saudara-Saudara serevolusi" (kaum Nasseris) tidak menolak "Islam Kiri" juga. Rencana revolusi-revolusi Islam dalam berjuang menentang kolonialisme dan Zionisme, akhir dari reaksionisme dan keterbelakangan, realisasi kebebasan, sosialisme dan kesatuan ternyata adalah rencana "Islam Kiri".
Mereka berusaha mendukung tujuan Islam, tapi hubungan antara keduanya dangkal. Akibatnya Islam menjadi alat untuk membenarkan kemampanan yang ada. Tapi "Islam Kiri" didasarkan pada Islam itu sendiri. "Saudara-saudara sekebebasan" (kaum liberalis) sangat merasakan "Islam Kiri", karena mereka menganggapnya sebagai bagian dari warisan ummah. Tapi al-Tahthawi, seorang sarjana yang religius, dan Islam adalah sumber pokok kaum liberalis (Thaha Husain, dll.). Mereka bicara tentang kaum yang tertindas, kebebasan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam Islam.
Mereka menggunakan akal dalam tradisi, dan mengkritik peradaban Barat. Mereka mengupayakan pencerahan, tapi belum mentransformasinya ke dalam pencerahan menyeluruh. "Islam Kiri" bertujuan untuk menyempurnakan apa yang kaum liberalis awali dan mentransformasikan masyarakat dari liberalisme ke pencerahan. "Islam Kiri" tidak terkurung dalam ungkapan-ungkapan seperti Islami, Arab dan Dunia, agama dan negara. Ia tidak menyatakan revolusi hanya untuk kaum Muslim, tapi revolusi bagi "rakyat al-Kitabi" yang menyatakan bagian dari warisan ummah dan sejarah ummah. rldak ada perbedaan antara Islam dan gereja-gereja Timur dalam menghadapi imperialisme Barat. "Istam Kiri" melindungi kreativitas bangsa-bangsa historis, dan menolak pengawasan budaya oleh Barat.
Keraguan dan Bahaya
"Islam Kiri" sepenuhnya bebas dari Timur atau pun Barat. Ia bukan Marxisme baru, liberalisme revolusioner atau gerakan Syi'ah. Ia menghadirkan kecenderungan budaya ideologis yang berakar dari warisan klasik kita, al-Qurtan dan Sunnah. Ia muncul di Mesir, yakni pusat dunia Islam dan jantung Arabisme. Ia bukan partai politik, bukan oposisi menentang pemerintah atau kemapanan, dan juga tidak melakukan agitasi bagi pemberontakkan dalam negeri. "Islam Kiri" mempertimbangkan politik dalam budaya ummah dan renaissans ummah, dan perjuangannya adalah pada tingkat kesadaran budaya dan peradaban ummah. Ia bertujuan melampaui pemecahan-pemecahan yang parsial untuk mencapai pandangan yang menyeluruh. "Islam Kiri" bukan hanya "bekas" dengan semangat yang berapi-api dalam pikiran masyarakat, tapi bertujuan untuk mentransformasikan bekas itu ke dalam akal, dialog dan pencerahan untuk mempertahankan kebaikan Islam. Jurnal ini tidak hanya menghadirkan suatu kecenderungan, karena ia menghimpun esai-esai dan pendapat-pendapat yang bermacam-macam, yang punya keinginan untuk memunculkan sisi progresif dalam Islam dan unsur-unsur revolusioner dalam sejarah kita. Kita dapat berbeda, tapi perbedaan kita adalah seperti perbedaan antara para sahabat Nabi Muhammad. Semua kita mencari kebenaran, menjalankannya, dan berusaha membuktikannya. Kita mungkin diragukan, dipandang bid'ah dan kafir. Ini jelas pandangan yang jahat dan bernafsu untuk menjadi penguasa. Tapi kita bertumpu pada bukti --bukti dengan sumber yang otoritatif. Kita melakukan ijtihad seperti para pendahulu kita. Kita mengikuti jalan yang diambil para ulama besar dan ummah. "Islam Kiri" bukan Islam yang berbaju Marxis, dan bukan pula Marxisme yang berbaju Islam. Ia tidak terpengaruh oleh Marxisme dalam bentuk maupun isinya, tapi ia mempunyai ungkapan-ungkapan untuk membangun revolusi kaum Muslim. Ia tidak terpengaruh Barat. Ia pada dasarnya menantang Barat. Ia bukan pencerahan yang diartikan di Barat, tapi merupakan tahap yang dilalui oleh setiap peradaban. "Islam Kiri" mengungkapkan apa yang kaum Muslim sekarang perlukan: sistem dan pemikiran, gerakan atau reformasi, lama atau baru, tradisi atau kekinian. Ia memperbarui al-'Urwah al- Wutsqa. Kita akan mengembangkan rencana al-Afghani dan mengirimnya bagi revolusi pada generasi yang akan datang. Karena bagi kami, al-Afghani tetaplah masih hidup.***
Semoga bermanfaat.
Wassalam bil khair,
Al Chaidar
“Paradikma islam kiri”

Mahasiswa oh Mahasiswa

MAHASISWA PERLU MEMBANGUN LOGIKA GERAKAN
Dipublikasikan: 25/04/2006 16:51:24

“Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya; Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan; Kemudian dia akan diberi balasan yang paling sempurna.”
(QS. 53 :39-41)

Pergerakan pemuda dalam kancah pergulatan politik Indonesia mempunyai tempat tersendiri. Peran pergerakan pemuda menempatkan diri pada penguatan politik dan logika yang mau dibangun oleh gerakan pemuda. Logika tersebut lahir dari sebuah realitas bangsa yang sedang mengalami masa transisi dan belum stabil dalam menempatkan posisinya menjadi bangsa yang kuat dan dihargai.
Karenanya penguatan logika dan peran gerakan mahasiswa dan pemuda akan menjadi bagian tersendiri dalam sejarah bangsa yang sedang mengalami perubahan ini, salah satu logika yang harus dibangun oleh gerakan mahasiswa dan pemuda adalah usaha mencintai Indonesia dengan sedalam-dalamnya dan sebaik-baiknya.
Mencintai karena Indonesia ini adalah tempat kita dilahirkan dan berjuang. Indonesia adalah ladang tempat kita untuk berpikir, berkarya menciptakan kreasi dan inovasi dalam bingkai kemanusiaan. Bukan sebaliknya, Indonesia yang dijadikan sebagai lahan kejahatan, kebobrokan moral dan pergumulan komplotan penjahat yang meruksak negara dan menghilangkan wibawa bangsa. Meminjam istilah Soegeng Sarjadi (1998) Indonesia mengalami paralyzed atau lumpuh, hal ini untuk menyatakan kesan terhadap jalannya kehidupan bernegara, kehidupan politik, sosial, ekonomi, hukum dan lain-lain.
Logika yang dibangun oleh gerakan mahasiswa dan pemuda dalam mencintai bangsa ini karena Indonesia banyak menyisakan segudang problema, dari persoalan jungkir baliknya politik, patahan-patahan disiplin yang kian menggejala, meronta-rontanya nilai keadilan, dihantamnya masyarakat lemah oleh palu godam kekuasaan, merebaknya buta nurani, suburnya buta moral, serta fenomena kebrutalan ditambah sifat beringas dan karakter sadistis yang kian hari kian parah. Gejala seperti ini muncul ditengah masyarakat kita dan bisa jadi salah satu faktornya adalah karena kepribadian politik dan prilaku politik para pejabat dan penguasa seperti yang terjadi ditengah-tengah masyarakat itu, sebab prilaku pemimpin atau elit politik dan pejabat berbanding lurus dengan kondisi kultur masyarakat itu sendiri.
Mencermati kondisi kerakyatan dan kebangsaan yang semakin rapuh dari nilai budayanya diserang oleh budaya barat yang meruksak moral bangsa semakin meletihkan kelopak mata, menyesakkan dada dan memilukan hati bangsa. Berbagai fenomena kejahatan yang semakin menggejala dan merebak kian hari kian besar. Para elit sosial politik berlomba menumpuk dan mengeruk harta, kerakusan diri yang dipelihara, hura-hura yang di puja dan di ikuti, semua ini karena kecenderungan hawa napsu yang menyelimuti kondisi bangsa sebagai bukti dari bangsa yang sedang mengalami berbagai penyakit kejiwaan yang menggila.1
Para pemimpin bangsa hanya jadi kura-kura yang berjalan hanya sebatas tengok kiri tengok kanan, maju mundur yang tidak menghasilkan perubahan mendasar bagi bangsa ini. Para pejabat hanya jadi robot-robot yang dipekerjakan oleh orang lain tidak bisa berinovasi dan berkreasi dan berkarya hanya bisa menjalankan tugas ecek-ecek menunggu perintah empunya digerakan dia bergerak, digoyangkan ia bergoyang, karenanya bangsa ini terlalu banyak dihuni oleh orang-orang konyol yang terlalu tolol dalam mengelola bangsa.
Logika mereka tertutup oleh kabut hitam dunia, tangan mereka terlalu kreatif menggasak uang negara, mata mereka melotot tajam melihat kekayaan negara sementara nurani mereka tertutup oleh bising industri yang tidak pernah menghiraukan rakyat yang kian meronta dan menjerit-jerit kelaparan, kurang gizi, busung lapar, malaria, budeg, bego dan minder menghadapi jaman yang kian ganas menerkam mereka.
Barangkali tidak berlebihan bahwa kondisi semacam ini perlu dirubah secara radikal, mendasar dan akselaratif. Proses perubahan itu sendiri harus dilakukan oleh manusia-manusia yang berjiwa besar, perkasa dan gagah bukan oleh orang-orang yang loyo dan minimalis apalagi hanya sebatas menumpang makan mengisi perut yang ujungnya numpang buang air besar dan kentut dinegeri yang kaya raya ini. Percuma memang kalau bangsa ini terus mempertahankan manusia-manusia yang bermental kalah terus dalam berbagai pergulatan dunia

KAMMI

KILAS BALIK SEJARAH LAHIRNYA KAMMI

Dasar Kemunculan
1. Adanya indikator yang mematikan potensi bangsa.
2. Urgensi Sebuah Tuntutan Reformasi
3. Adanya Kepentingan Umat Islam Untuk Segera Berbuat
4. Aksi Demontrasi dan Mimbar Bebas Semakin Menjamur.
5. Mahasiswa Islam Merupakan Elemen Sosial.
6. Suara Umat Islam Mulai Terabaikan.
7. Depolitisasi Kampus Memandulkan Peran Mahasiswa.

Waktu Kelahiran
KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X seindonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia . Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktifis dakwah kampus. KAMMI lahir para ahad tanggal 29 April 1998 PK.13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang .



Pemilihan Nama
Pemilihan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang kemudian disingkat KAMMI mengandung makna atau memiliki konsekwensi pada beberapa hal yaitu :
1. KAMMI adalah sebuah kekuatan terorganisir yang menghimpun berbagai elemen Mahasiswa.
2. Muslim baik perorangan maupun lembaga yang sepakat bekerja dalam format bersama KAMMI.
3. KAMMI adalah sebuah gerakan yang berorientasi kepada aksi real dan sistematis yang dilandasi gagasan konsepsional yang matang mengenai reformasi dan pembentukan masyarakat Islami (berperadaban).
4. Kekuatan inti KAMMI adalah kalangan mahasiswa pada berbagai stratanya yang memiliki komitmen perjuangan keislaman dan kebangsaan yang jelas dan benar.
5. Visi gerakan KAMMI dilandasi pemahaman akan realitas bangsa Indonesia dengan berbagai kemajemukannya, sehingga KAMMI akan bekerja untuk kebaikan dan kemajuan bersama rakyat, bangsa dan tanah air Indonesia.
Perjalanan kepengurusan
Kepengurusan pertama adalah periode al-akh Fahri Hamzah, yakni sejak Deklarasi sampai Muktamar I di Bekasi pada bulan November 1998. Periode ini memfokuskan aktivitasnya kepada aktualisasi jaringan nasional untuk mengambil peran historis secara heroik dalam proses reformasi di Indonesia, yakni dengan menggiatkan aksi secara simultan, merata, kontinyu, dan menegaskan komitmen reformasi yang jelas. Periode ini adalah masa launching ke hadapan publik dan positioning awal KAMMI sebagai elemen gerakan mahasiswa yang diharap selalu mengambil peran terdepan dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Periode kedua adalah masa al-akh Fitra Arsil, yang terpilih untuk menggantikan akh Fahri dalam Muktamar I dan menjalankan amanah sampai Muktamar II di Yogyakarta pada bulan November 2000. Periode ini memiliki tugas untuk secara serius menata infrastruktur organisasi KAMMI yang establish dan merancang sistem kaderisasi KAMMI yang lebih terstruktur. Juga melakukan berbagai aksi sosial dan kemanusiaan untuk ikut mengatasi beban rakyat yang ditimbulkan oleh krisis berkepanjangan.
Periode ketiga adalah masa al-akh Andi Rahmat yang terpilih dalam Muktamar II KAMMI di Yogyakarta dan direncanakan menjabat sampai tahun 2002. Periode ini menekankan pentingnya positioning strategis KAMMI di tengah pluralitas gerakan yang ingin mewarnai proses transisi di Indonesia. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, akh Andi Rahmat menyatakan mundur dari jabatannya pada bulan Maret 2001.
Menyikapi hal tersebut, Badan Permusyawaratan (BP) KAMMI Pusat berinisiatif untuk menyelenggarakan Muktamar Luar Biasa (MLB) KAMMI di Bandung pada tanggal 20-22 April 2001. Muktamar tersebut memutuskan untuk merubah sistem kepemimpinan terpusat menjadi sistem kepemimpinan kolektif, yang akhirnya memilih sembilan orang sebagai anggota Pimpinan Pusat (PP) KAMMI, yakni:
• Akbar Zulfakar (Ketua Umum);
• Purwoko Kurniawan (Ketua Kaderisasi);
• Muhammad Badaruddin (Ketua Kastrat);
• Elvis Bakri (Ketua Teritorial/KT I);
• Ach. Fauzi I. (KT-II);
• Supriyadi (KT-III);
• Hermawan (KT-IV);
• Suparmono (KT-V); dan
• Yusran (KT-VI).
Muktamar III Lampung tanggal 1-9 September 2002 memutuskan untuk memilih
• Muhammad Hermawan, S.Si sebagai Ketua Umum dan
• Fahmi Rusdi, LC sebagai Sekretaris Jendral,
juga dipilih anggota Pimpinan Pusat (PP) KAMMI, yakni
• Marwansyah (Ketua Teritorial/KT I);
• Febriansyah (KT-II);
• Yuli Widi Astono (KT-III);
• Teguh, ST (KT-IV);
• Imron Rosyadi (KT-V); dan
• M. Dwi Tanjuri(KT-VI),
• Jauhari (KT-VII).
FILOSOFI GERAKAN
ASAS KAMMI
KAMMI berasaskan Islam
VISI KAMMI
Wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin bangsa masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.

MISI KAMMI
1. Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia.
2. Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik mahasiswa.
3. Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera.
4. Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.
5. Mengembangkan kerjasama antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).
PRINSIP GERAKAN KAMMI
1. Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
2. Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI
3. Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
4. Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI
5. Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
6. Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI
7.

Gerakan Mahasiswa = Gerakan Nilai ?

Gerakan Politik Mahasiswa
Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Kutipan Lagu Totalitas Perjuangan di atas seolah ingin memberi tahu kita bahwa sejarah berbagai negara biasanya berbesar hati mengabadikan peran-peran signifikan gerakan mahasiswa dalam berbagai momentum besar negara tersebut. Namun faktanya, tak sedikit bias sejarah yang menjadikannya tak mampu menangkap gelora semangat, gelombang antusiasme dan aura idealisme yang menyertai pergerakannya yang monumental.
Pergerakan mahasiswa. Sebuah istilah yang dari masa ke masa senantiasa disertai diskursus wacana yang tajam mengenai fungsi dan perannya. Diskursus ini menjadi urgen karena ia akan sangat berkaitan dengan jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa itu sendiri. Perdebatan yang terjadi biasanya dalam mendefinisikan dan mendeskripsikan gerakan mahasiswa, terutama berkaitan dengan karakter pergerakannya. Yaitu, apakah pergerakan mahasiswa adalah gerakan moral atau gerakan politik? Atau kedua-duanya?
Hariman Siregar (Mantan Ketua BEM UI 1974, tokoh peristiwa Malari) dalam bukunya Gerakan Mahasiswa, Pilar ke-5 Demokrasi bersikukuh bahwa gerakan mahasiswa adalah gerakan moral dan bukan gerakan politik. Kalau sampai gerakan mahasiswa melakukan pergerakan politik, berarti dia telah keluar dari jati dirinya. Karena itu ia tidak bersepakat dengan gerakan mahasiswa yang bermain di tataran politik seperti menuntut mundur seorang presiden.
Hal yang berbeda disampaikan Rico Marbun (Mantan Ketua BEM UI yang menuntut Megawati mundur). Menurut dia, gerakan mahasiswa justru merupakan gerakan politik dan tidak perlu takut untuk menegaskan gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik ekstraparlementer. Gerakan mahasiswa memiliki tanggung jawab secara politis atas bangsanya yang sedang dalam sakaratul maut, dan mereka dituntut untuk melakukan gerakan politik secara aktif dan masif.
Fajroel Rachman menegaskan bahwa gerakan mahasiswa seharusnya tidak berhenti sebagai gerakan moral dan gerakan menumbangkan rezim saja, tetapi juga harus merebut dan membangun kekuasaan. Tanpa kekuasaan, tidaklah mungkin bagi mahasiswa untuk mewujudkan cita-cita politiknya. Fajroel Rachman bahkan menyarankan sebagian pergerakan mahasiswa mendirikan partai politik dan menjadi bagian gerakan politik intraparlementer dengan terlibat dalam kancah politik formal sebagai elemen mahasiswa.
Pandangan gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik inilah yang mendasari keterlibatan aktivis mahasiswa Indonesia sebagai anggota legislatif di DPR-MPR pada awal orde baru. Manuver tersebut ternyata dianggap gagal dan justru menimbulkan konflik internal pergerakan mahasiswa. Selain itu, pandangan gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik juga mendasari munculnya wacana 'potong generasi' dan 'Junta Muda Mahasiswa' yang disuarakan beberapa elemen pergerakan mahasiswa Indonesia.
Wacana ini berkembang berkaitan dengan kemungkinan (bahkan keharusan) generasi muda, terutama mahasiswa untuk mengambil alih kekuasaan karena golongan tua yang hari ini memimpin dianggap memilik dosa-dosa masa lalu. Akibatnya, mereka gagu dan gagap melakukan reformasi dalam rangka transisi demokrasi.
Perbedaan pandangan tentang karakter pergerakan mahasiswa ini terkadang menajam dan menyebabkan konflik di kalangan aktivis mahasiswa itu sendiri. Para penganut gerakan moral an sich biasanya menuduh aktivis yang melakukan gerakan politik sebagai komparador partai politik tertentu, ditunggangi kepentingan politik tertentu dan lain-lain.
Sebaliknya, para aktivis yang meyakini gerakan mahasiswa bukan hanya gerakan moral, tapi juga gerakan politik biasanya menganggap orang-orang yang tidak terlibat bersama mereka sebagai apatis, apolitis,tidak melek politik dan lain-lain. Konflik-konflik di kalangan mahasiswa seperti ini masih sering terjadi sampai sekarang.
Gerakan politik nilai Vs gerakan politik kekuasaan

Sebenarnya, ada titik temu di antara dua aliran di atas karena kedua-duanya juga meyakini gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral yang universal. Perbedaan terjadi berkaitan dengan gerakan politik yang dilakukan mahasiswa. Apakah itu sesuai dengan jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa?
Perbedaan pandangan di atas menyebabkan mahasiswa terpolarisasi dalam dua kutub yang berlawanan. Karena itu, kita perlu melakukan redefinisi, paradigma baru pergerakan mahasiswa dalam rangka rekonstruksi jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa Indonesia. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya rekonsiliasi antarkubu sekaligus langkah awal konsolidasi pergerakan mahasiswa Indonesia yang hari ini terkotak-kotak.
Kalau kita menganalisis secara jujur, aktivitas pergerakan mahasiswa seperti demonstrasi, orasi, seminar, kongres, pernyataan sikap, tuntutan dan lain-lain, sebenarnya merupakan aktivitas politik. Semua itu merupakan sarana komunikasi politik lisan dan tulisan. Jadi secara jujur tak bisa dipungkiri bahwa gerakan mahasiswa merupakan gerakan politik. Namun, gerakan politik seperti apakah yang layak dimainkan pergerakan mahasiswa? Apa yang membedakannya dengan partai politik?
Ada konsep menarik yang akhir-akhir ini mencuat dan saya melihatnya sebagai alternatif yang cerdas. Hal ini berkaitan dengan mencuatnya konsep 'gerakan politik nilai' (value political movement) dan 'gerakan politik kekuasaan' (power political movement).
Gerakan politik nilai adalah gerakan yang berorientasi terciptanya nilai-nilai ideal kebenaran, keadilan, humanisme (kemanusiaan), profesionalitas dan intelektualitas dalam seluruh aspek pengelolaan negara. Sedangkan gerakan politik kekuasaan merupakan gerakan politik untuk mencapai kekuasaan seperti yang dilakukan oleh partai-partai politik.
Gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik nilai ini tidak mempedulikan siapa yang berkuasa, karena siapa pun yang berkuasa akan menjadi sasaran tembak ketika melakukan penyimpangan. Ia tidak berkepentingan mendukung seseorang untuk menjadi penguasa, tapi siapa pun penguasa yang otoriter akan berhadapan dengan gerakan mahasiswa.
Hal tersebut jelas berbeda dengan ketika gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik kekuasaan, karena ia sangat peduli siapa yang berkuasa dan senantiasa berusaha merebut kekuasaan itu, atau berusaha terus mempertahankan kekuasaan itu ketika ia menjadi penguasa atau membela organisasi/partai yang menjadi patronnya ketika menjadi penguasa. Gerakan politik nilai mahasiwa bersifat independen, tidak mendukung calon penguasa dan tidak masuk ke dalam sistem pemerintahan atas nama pergerakan mahasiswa. Karena, jika hal tersebut dilakukan, fungsi controlnya hilang dan tugas utama mahasiswa, yaitu belajar, menjadi terbengkalai.
Namun, ketika gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik nilai, gerakan ini lebih memainkan fungsinya sebagai kontrol sosial dan tekanan sosial (social pressure) terhadap kekuasaan. Kalaupun gerakan menukik menjadi tuntutan mundur penguasa, itu didasari standar nilai yang jelas bahwa pemerintah sudah tak mampu dan bukan dalam rangka menaikkan seseorang menjadi penggantinya.
Gerakan politik kekuasaan biasanya tidak independen karena kepentingannya sempit: kekuasaan. Jika gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik kekuasaan, maka bukan merupakan hal yang tabu untuk mengatasnamakan aktivis gerakan mahasiswa dalam rangka mendukung calon penguasa (seperti yang dilakukan Rico Marbun dkk dengan terang-terangan mendukung Jenderal Wiranto dari Partai Golkar sebagai calon Presiden dalam pemilu 2004), atau masuk ke dalam sistem (seperti para penganut 'junta muda mahasiswa' dan seperti aktivis mahasiswa di awal orde baru yang menjadi anggota parlemen atas nama perwakilan mahasiswa), atau membela penguasa/partai yang merupakan patronnya (seperti CGMI yang membela PKI di tahun 1966).
Saya sepakat dengan pandangan yang mengatakan bahwa gerakan mahasiswa selain sebagai gerakan moral, juga merupakan gerakan politik nilai dan bukan gerakan politik kekuasaan. Gerakan politik kekuasaan merupakan area concern partai politik dan bukan untuk gerakan mahasiswa. Jika ada aktivis mahasiswa yang bermain dalam area tersebut, seharusnya tidak mengatasnamakan gerakan mahasiswa, tapi lebih baik bergabung dalam partai politik. Gerakan politik nilai memang bersentuhan dengan aktivitas-aktivitas politik, menggunakan berbagai sarana komunikasi politik, dan memiliki target-target politik, tapi bukan berkaitan dengan perebutan kekuasaan. Memang dengan demikian, gerakan mahasiswa akan tampak seperti koboi pahlawan yang datang ke kota untuk memberantas bandit-bandit dan penjahat. Setelah bandit-bandit itu kalah, Sang koboi kembali pulang ke padang rumput.
Mahasiswa akan turun ketika menyaksikan rakyat terzalimi oleh bandit-bandit penguasa dan kembali ke kampus untuk belajar setelah rezim itu 'dihajar' dan diberi pelajaran. Lalu, bagaimana sesudah itu? Siapa yang akan memimpin kota sepeninggal sang koboi? Siapa yang akan memimpin negeri setelah sang diktator turun? Di sinilah rumitnya. Yang pasti, itu bukan tugas koboi muda karena ia masih harus belajar sehingga suatu saat nanti sampai masanya dia memimpin kota. Itu bukan tugas gerakan mahasiswa, ia masih punya tugas akademis dan pembelajaran kaderisasi kepemimpinan di kampus yang menjadikannya siap sebagai para pemimpin masyarakat yang memiliki konsistensi idealisme seperti ketika masih di kampus.
Masalah kekuasaan lebih merupakan tugas partai politik. Gerakan mahasiswa hanya bertanggung jawab mengontrol dan mengawal transisi dan perkembangan demokrasi supaya tetap pada relnya, terlepas dari siapa yang berkuasa. Dalam pelaksanaannya, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk berkoordinasi dengan partai politik, LSM dll ketika lembaga-lembaga tersebut menjunjung nilai-nilai moral universal seperti gerakan mahasiswa.
Meskipun demikian, ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan menggelitik. Mungkinkah terjadi suatu kondisi luar biasa memaksa keterlibatan mahasiswa untuk terjun menjadi para pemimpin negara? Menurut saya mungkin-mungkin saja. Hanya saja, mereka harus siap dengan konsekuensi seperti yang disampaikan Imam Syafi'i : Apabila orang muda terlalu cepat tampil menjadi pemimpin, maka ia akan kehilangan banyak waktu untuk ilmu!. Meskipun demikian, bukan hal yang mustahil pula seorang muda mengakselerasi kematangannya melalui tradisi ilmiah dan pergolakan social yang kental.
Tugas inti kita sekarang, bagaimana mengoptimalkan keseluruhan peran dan fungsi kita sebagai mahasiswa. Fungsi yang dimaksud adalah fungsi intelektual akademisi, fungsi cadangan masa depan (iron stock), fungsi agen perubah (agent of change), dll. Kata kuncinya adalah menjadi pembelajar sejati, sehingga mahasiswa mampu memiliki kedewasaan yang jauh meninggalkan umurnya dan pandangan-pandangan yang jauh meninggalkan zamannya. Agar kita senantiasa siap memenuhi panggilan kehidupan untuk menoreh sejarah kepahlawanan sebagai pemimpin sejati!

Gerakan Mahasiswa Indonesia

MENGENAL GERAKAN MAHASISWA SEBUAH FAKTA HISTORIS

Peranan dan posisi strategi pemuda dan mahasiswa dalam proses perubahan setiap bangsa selalu menentukan dalam konteks jamannya. Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia tidak pernah terlepas dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan dilatarbelakangi pada persoalan-persoalan dasar dan kebutuhan struktural rakyat Indonesia. Dan tidak dapat dipungkiri gerakan mahasiswa tidak terlepas dari pengaruh : perang-perang heroik didalam maupun diluar negeri, penyebaran ideologi liberalisme, nasionalisme, komunisme, sosial demokrat, dan islam. Maka secara singkat dibawah ini kita dapat memulai pembabakan Gerakan Mahasiswa menurut sejarahnya.

MASA PENJAJAHAN BELANDA

Lahirnya Budi Oetomo.
Berawal dari akhir tahun 1907 siswa STOVIA yang diprakarsai Soetomo dan Soeradji mengundang Dr. Wahidin untuk mengemukakan gagasan dan cita-citanya didepan para siswa STOVIA. Ternyata mereka tergugah dari diskusi semangat dokter pensiunan itu yang sudah lama diperjuangkan oleh Wahidin. Dimana gagasan tersebut menemukan titik perwujudannya ketika para siswa itu sepakat untuk membentuk organisasi sesuai dengan keinginan dan cita-cita yang diperjuangkan oleh wahidin. Akhirnya pada hari minggu tanggal 20 Mei 1908 di aula STOVIA di Jakarta diumumkan berdirinya organisasi tersebut dengan nama Budi Oetomo dan Soetomo terpilih sebagai ketua. Yang membuat organisasi ini penting adalah bahwa Budi Oetomo organisasi Indonesia pertama yang mengikuti garis-garis barat. Dimana perkembangan luar negeri diantaranya muncul Pan Islamisme menyusul gerakan Turki Muda (1880-1902), reformasi Kwang Ju Dfi Cina menjelang abad 21, dan kemengan Jepang atas Rusia, membawa inspirasi sekaligus motivasi untuk memulai memikirkan nasib rakyat jawa yang terus “tertidur” dan jauh tertinggal dan karena itu harus diupayakan untuk bangkitnya “bangsa jawa” dalam menyongsong peradaban baru yang ditandai oleh berbagai peristiwa diatas. Namun dan orientasi dan tindakannya organisasi ini dinilai terbatas pada perannya bersifat “kebudayaan” dan bukan bersifat “politik”. Gerakan Budi Oetomo bukan dalam rangka konsep mahasiswa namun pemuda dan belum mempunyai konsep nasionalisme yang jelas (kedaerahan)- Ia menjelmakan kemajuan suatu kelompok kebudayaan tertentu (jawa)- dan pada tahap awalnya ia tidak berpretensi untuk membangun suatu bangsa. Organisasi- organisasi yang muncul kemudian adalah juga organisasi kepemudaan dan kedaerahan. (jong sumatera, jong Batak, Jong Ambon, Jong Minahasa dll) dan kurang berorientasi Indonesia.

Perhimpunan Indonesia

Perang Dunia I (1914-1918) membangkitkan kesadaraan dikalangan bangsa-bangsa penjajah tentang Hak Azasi Manusia, Hak Kemerdekaan dan Kebebasan Bangsa-bangsa, Hak Demokrasi dan lain sebagainya. Dampak dari perdamaian Perang Dunia I muncullah di barat-negara-negara nasion sebagai Hak penentuan nasib sendiri yang juga berfungsi sebagai dasar penentuan peta baru Eropa sehabis Perang Dunia I menimbulakan dampak Nasionalisme serta memicu gerakan nasionalisme didaerah jajahan dimana-mana. Dalam perubahan wawasan dan muncullnya kesadaran baru itulah Ikatan Pelajar Indonesia (mahasiswa) yang didirikan tahun 1917 melebur diri menjadi Perhimpoenan Indonesia pada januari tahun 1930, menjadi satu yayasan diamana salah satu tujuan utamanya menghidupkan dan memecahkan persoalan-persoalan sosial di Indonesia, yang mencakup para pelajar dari Indonesia yang tinggal di Netherland. Yang menjadi anggota ialah orang Indonesia pribumi, keturunan cina dari Indonesia, orang Indo yang bekerja di Indonesia dan sebagainya.
Perhimpunan Indonesia telah mengekspresikan muncullnya kesadaran kolktive, dan sekaligus ditemukan identitas kelompok. Perhimpunan Indonesia yang semula bernama INDISCHE VEREENIGING, sejak awal tahun 1920-an berubah dari organisasi yang bersifat sosial menjadi suatu organisasi politik yang semakin radikal. Perhimpunan Indonesia adalah organisasi yang pertama sekali merumuskan konsepsi nasionalisme secara jelas dan rinci (MANIFESTO POLITIK), yang kemudian menjadi acuan bagi berbagai gerakan nasionalis di Indonesia sejak tahun 1920-an. Pernyataan dasar (Manifesto Politik PI) waktu itu ialah :
1. Hanyalah Indonesia yang bersatu mengenyampingkan perbedaan yang mampu mematahkan kekuatan penguasa yang menjajah. Tujuan bersama adalah pembebasan Indonesia berdasarkan pada kesadaran dan bertumpu pada kekuatan aksi massa Nasionalistis.
2. Dalam setiap masalah tata negara kolonial yang mendominasi ialah perlawanan kepentingan antara penjajah dengan yang dijajah.
3. Keikutsertaan semua lapisan masyarakat dalam perjuangan pembebasan yang mendominasi dalam perjuangan itu ialah berlawanannya kepentingan yang menjajah dan yang dijajah.
Perlu dicata bahwa dalam manifesto itu sangat ditekankan pokok-pokok antara lain : ide kesatuan atau ideologi kesatuan dan prinsip demokrasi dan disusul dalam sebuah program kerja terutama dalam melancarkan propaganda secar intensif dasar-dasar tersebut, khususnya di Indonesia, menarik perhatian dunia Internasional terhadap Indonesia dan meningkatkan perhatian anggota terhadap persoalan internasional.
Perkembangan selanjutnya kebijakan pe4merintah kolonial yang represif setelah pemberontakan PKI 1926 dan 1927 dalam pemogokan buruh dan petani sangat menentukan karakter pergerakan bangsa indonesia, yaitu melumpuhkan gerakan nasional,maka muncullah altenative Kelompok Study ( study club ) dan Algemenne Studye Club yang mempelajari kondisi dan persoalan konkrit yang berhubungan dengan rakyat, kemudian melakukan ceramah-ceramah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya,pendidikan politik seperti arti pergerakan kepartaian dan sebagainya. Disamping membuat media propaganda dalam bentuk brosur, pamflet atau surat kabar dan majalah. Dalam merespon perubahan politik dalam situasi kesulitan meleburkan diri kadalam partai politik yang ada para anggota PKI sepakat membentuk berbagai kelompok study terutama di kota besar yaitu : Jakarta, Bandung, Surabaya,. Inilah sebagai cikal bakal membentuk partai yang disponsori oleh para tokoh nasionalis muda untuk mencari dan memperluas peranan politik dan kebutuhan akan sastu partai. Kelompok Study Indonesia di Surabaya berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia ( PBI ) pada tanggal 11 November 1930.Kelompok Study Umum di Bandung berubah jadi Partai Nasional Indonesia pada tanggal 4 Judli 1927. Dari kronologis ini dapat kita simpulkan bahwa kondisi politic ekonomi pada saat itu politik kolonial yang semakin represif, yang kemudian berubah menjadi liberal karena perubahan ekonomi dunia dan Belanda-menstimulus kondisi studie club menjadi sebuah partai.



MASA PENJAJAHAN JEPANG

Penduduk jepangmerrupakan faktor yang menentukan dalam perubahan keseimbangan kekuatan serta arah perkembangan poitik di indonesia pada masa setelah perang. Nampak terlihat terhadap pembentukan negara pada masa perang melawan Belanda dan muncullya generaasi kepemimpinan baru didalam politik bangsa. Namun yang prlu penekanan disini adalah peranan kaum pemuda dan mahasiswa didalam revolusi Indonesia yang menjadi penting karena potensinya dibangkitakan dan didorong didalam kebijakan Jepang yang melakukan indoktrinasi dan mobilisasi sehingga terbentuk cara hidup yang radikal dan militan. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan kebijakan mereka diwilayah pendudukan jepang, pemerintah fasisme militer Jepang memberikan perhatian besar tentang bagaimana “menyita hati rakyat” dan bagaimana “mengindoktrinasi dan menjinakkan mereka”. Mereka beranggapan bahwa perlu memobilisasikan seluruh masyarakat dan membawa sepenuhnya mentalitas rakyat Indonesia menuju kesesuaian dengan ideologi Jepang tentang Lingkunagn Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Mereka berpikir bahwa orang Indonesia harus dibentuk kedalam pola tingkah laku can cara berpikir jepang. Dan propaganda sejak awal pendudukan merupakan kewajiban pokok dari pemerintahan militer. Maka dibentuklah Departemen Propaganda (sendenbu) yang bertanggung jawab atas propaganda serta informasi yang menyangkut pemerintahan sipil (ditujukan kepada penduduk sipil Indonesia).

Untuk melaksanakan skema propaganda ini kedalam opersi, digunakan berbagai media seperti surat kabar, pamflet, buku, poster, foto, siaran radio, pameran, pidato, drama, seni pertunjukan tradisional, musik dan film. Salah satu yang terutama sangat dipromosikan ialah film, seni panggung, pertunjukan kerts dan musik. Karena ini yang efektif bagi penduduk desa yang kebanyakan tidak berpendidikan dan buta huruf. Biasanya film yang dipertunjukan dibagi dalam berbagai kategori yaitu : film yang menekankan persahabatan antara bangsa jepang dan bangsa-bangsa Asia serta peran pengajaran Jepang : film yang mendorong pemujaan patriotisme dan pengabdian terhadap bangsa : film yang menekankan kekuatan militer jepang : film yang menekankan kejahatan bangsa barat :film yang menekankan peningkatan produksi, dll. Ruang yang ada untuk gerakan mahasiswa pada masa ini sangatlah singkat selama pendudukan Jepang kurang lebih 3 tahun sampai pada pasca kemerdekaan tahun ’45 namun yang pasti semua organisasi pemuda yang dad dibubarkan dan semua pemuda dimasukkan kedalam organisasi-organisasi sosial-politik yang baru yaitu : Seinendan (Barisan Pemuda Indonesia), Keibodan (organisasi keamanan), Hokokai (Himpunan Kebaktian Raya), PETA (Pembela Tanah Air) untuk didik dan dimobilisasi demi upaya perang (fasis Jepang).
Strategi yang diambil oleh kaum pergerakan pada waktu itu ialah melakukan aksi/ gerakan bawah tanah dengan rapat-rapat gelap, penyebaran pamflet, buku, brosur. Tindakan ini diambil terpaksa kejamnya militer Jepang dalam mengawasi gerak-gerik kaum pergerakan nasional pada waktu itu. Disamping itu juga masa ini adalah masa muncullnya generasi muda yang dikemudian hari memainkan peranan yang sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yaitu Chairul Saleh, Soekarno, dll.yang menempatkan mereka dalam perbedaan-perbedaan strategi dengan generasi tua dalam memenangkan perang dengan fasis militer Jepang dalam revolusi kemerdekaan republik Indonesia (peristiwa Rengasdongklok). Aksi bawah tanah ini dikombinasikan dengan gerakan-gerakan formal Soekarno yang merupakan salah satu solusi alternatif terhadap perlawanan fasis militer, yang bagi kaum muda hal ini dilihat sebagai langkah kooperatif terhadap penjajah yang dapat memperlemah basis perlawanan rakyat.

Masa Kemerdekaan
Perubahan politik Jepang dengan dibomnya Nagasaki dan Hiroshima membukan perlawanan rakyat Indonesia untuk melucuti senjata militer Jepang. Kekalahan fasis militer dibelahan dunia terhadap sekutu-sekutu yang disponsori oleh Amerika Serikat (akhirnya menyerah terhadap sekutu) menjadi momentum yang diambil oleh gerakan pemuda pelajar Indonesia dengan muncullnya organisasi-organisasi : Pemuda Republik Indonesia, Gerakan Pemuda Republik Indonesia, Indonesia Muda, dll. Pada selanjutnya pemuda dan pelajar menyelenggarakan kongres pemuda seluruh Indonesia yang sangat penting artinya mematuhi undang-undang, membentuk dan memperkuat laskar, mengisi jabatan-jabatan penting di pemerintahan dan mematuhi pimpinan yang mengajak Revolusi Nasional dan Revolusi Sosial maka lahirnlah organisasi-organisasi seperti : PMKRI, HMI, Serikat Mahasiswa Indonesia, dan organisasi-organisasi terpelajar serta fungsional lainnya. Pada masa ini gerakan pemuda dan mahasiswa mencoba memperkuat penolakan terhadap usaha pendudukan militer Belanda dengan agresi untuk kedua kalinya.


GERAKAN MAHASISWA 1966

Dalam orientasi gerakan mahasiswa selanjutnya yang mulai menggugat hubungan sosial dalam kapitalisme, fasisme, feodalisme, imperialisme, komunisme, sisa peninggalan Belanda dan Jepang yang diformasi dalam pola kepemimpinan politik dalam mengatur masyarakat banyak. Kemudian sejarah mencatat kehidupan mahasiswa Indonesia tidak pernah sepi dari kegitan politik. Kehidupan kemahasiswaan tidak pernah terlepas dari aktivitas dunia politiknya. Pemilu 1955 adalah pemilu I yang dilaksanakan oleh pemerintah yang diikuti oleh banyak partai politik. Dapat dilihat bahwa kehidupan politik pada waktu itu adalah sistem multi partai dengan sistem aliran politik yang menjadi identitas kelompok. Begitu juga halnya dengan gerakan mahasiswa, pada waktu itu berafiliasi dengan mereka. CGMI berafiliasi dengan PKI, GMNI-PNI, HMI-MASYUMI, GEMASOS-PSI, PMKRI-PK. Hal ini sangat rentan dan laten dalam perpecahan dalam memperebutkan konstituennya, apalagi isu yang dibawakan pada waktu itu adalah soal isu “kiri” dan “kanan”. Hal ini tentunya juga punya implikasi politik yang panjang selama Demokrasi terpimpin yang diterapkan oleh Soekarno dalam masa kepimpinannya dengan konsep NASAKOM. Hal ini yang membuat pertentangan di parlemen ketika partai-partai Islam memasukkan “Piagam Jakarta” dalam amendemen konstitusi 1945, dan menjadi latara belakang dibubarkannnya parlemen.
Pertentangan elite politik dan gerakan mahasiswa dimanfaatkan oleh militer dengan memasuki gerakan pemuda dan mahasiswa dan melakukan depolitisasi dengan mengadakan kerjasama. Dan ini dapat kita lihat ketika gerakan mahasiswa 1966 “dibelakang” mereka adalah militer. Kemunculan komite/kesatuan aksi seperti KAMI, KAPPI, KAPI, dan organisasi yang lain yang pada umumnya berjuang untuk menentang rejim lama. Tuntutan yang terkenal pada waktu itu dengan sebutan TRITURA.

ISI TRITURA :

01. BUBARKAN PKI
02. TURUNKAN HARGA
03. Perbaikan ekonomi.
Disamping itu juga mereka melihat pelaksanaan roda pemerintahan yang demoralisasi dan korupsi serta kebijkan pemimpin yang menggayang Malasya serta memuka poros dengan peking yang tidak disenangi sebagian aksi militer yang cenderung ke barat. Mereka menggalang aksi di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan diberbagai kota lain. Tuntutan eskalasi ini sampai pada turunnya Soekarno akibat desakan mahasiswa dan mencapai puncaknya dengan pembubaran PKI dimana-mana yang sebelumnya mahasiswa dan pemuda melakukan perlawanan dengan membuka FRONT secara nasional untuk menggayang PKI.
Namun kelemahan mahasiswa ’66 ini secepat itupula dikooptasi menjadi alat penguasa untuk membungkam suara kritis mahasiswa dan menjadi apolitis. Hal ini terlihat bahwa setelah Soekarno turun mereka menganggap persoalan selesai, dan mereka balik “kembali ke kampus”. Makanya tepat apa yang dikatakan Soe Hok gie gerakan mahasiswa seperti “Resi”. Dengan kongres mahasiswa KAMI yang sebelumnya melebur diri menjadi PPMI sebagai organisasi federative mahasiswa, membuat tidak ubahnya mereka seperti neo-CGMI yang menjadi alat kooptasi dari orde baru. Mereka ramai-ramai masuk lembaga parlemen dengan alasan untuk memperbaiki keadaan yang telah rusak akibat pola dari orde lama namun mereka tidak lebih sebagai alat kooptasi dari rezim orde baru yang membangun negara pada sandaran kapitalistik dan militerisme sebab inilah penyokong orde baru dengan sekber golkar yang dibidangi militer sebagai legitimasi pemerintahan Soeharto.

Masa 1970 - Sekarang

Setelah orde baru berdiri tegak dengan ditopang oleh militer, terjadi perubahan politik yang sangat cepat di republik ini. Perubahan bidang politik dan ekonomi menjadi dasar kerangka dalam tindakan gerakan mahasiswa awal 1970-an. Perubahan dibidang ekonomi yang cenderung liberal-kapitalistik. Mulainlah Soeharto membangun oligarki bidang ekonomi dengan menguasai alat-alat vital hajat hidup orang banyak yang memakai sistem kronisme untuk memperkaya diri. Dibidang politik Soeharto melakukan “penyederhanaan” partai politik dengan melebur mereka dengan undang-undang tentang fusi politik dan mulailah partai secara organisasi dikebiri dan depolitisasi secara perlahan-lahan. Sentralisme kekuasaan total berada ditangan Soeharto. Tingkat organisasi mahasiswa juga mulai dibreteli dengan masuknya tokoh ‘66 dalam lembaga parlemen yang sebagian teman-temannya menolak untuk masuk sistem orba, misalnya Soe Hok Gie, Arief Budiman, dll. Keberadaan mereka didalam pemerintahan ternyata tidak dapat berbuat apa-apa yang punya cita-cita ingin memperbaiki keadaan yang ditinggalkan rezim lama. Malahan mereka jadi “tuan meneer” baru yang mau dijual beli perjuangannnya. Gelagat orde baru yang mulai melenceng dari cita-cita semula mulai terlihat. Muncullnya demo penentangan proyek mercu suar ingin membangun miniatur Indonesia yang dikenal dengan membangun TMII, aksi golput yang dihimpun oleh Arief Budiman dkk, Gerakan Anti Korupsi mendapat perlawanan dari penguasa dan tindakan agresif dari militer. Mahasiswa bergerak lagi awal januari tepatnya tanggal 15 tahun 1975 yang lebih dikenal dengan peristiwa MALARI dimana mahasiswa menolak sikap pemerintah yang membuka pintu pada dominasi modal asing (kapitalis, terutama Jepang). Gerakan ini akhirnya menimbulkan kerusuhan di kota Jakarta namun tidak mendapat dukungan luas dalam hal pengorganisasian dan perencanaan secara nasional. Tentunya pukulan bagi gerakan mahasiwa pada waktu itu adalah ditangkapinya pemimpin gerakan dan dijebloskan ke penjara dengan tindakan subversif terhadap negara.
Empat tahun kemudian 1978, mahasiswa ITB Bandung dan kemudian diikuti mahasiswa lainnya turun ke jalan. Mereka meneriakkan soal kebobrokan sistem orde baru mulai dari pemerintahan yang korupsi, pembodohan terhadap rakyat, pendidikan yang mahal, demokrasi yang tidak sehat, sehingga memunculkan gerakan-gerakan dengan pernyataan sikap tidak menginginkan Soeharto kembali menjadi presiden RI. Ditengarai bahwa mahasiswa sudah terlibat dengan yang namanya politik praktis maka pemerintah memberlakukan hadiah bagi mahasiswa dengan NKK/DKK sebagai alat untuk “memutus” mahasiswa dari luar kampus terutama politik.
Setelah digebuk penguasa militer dengan oposisi, termasuk gerakan mahasiswa tiarap. Gerakan mahasiswa melakukan konsolidasi melalui kelompok-kelompok diskusi/studi, dan kemudian mengambil strategi melakukan pengorganisasian terhadap basis massa rakyat. Advokasi mahasiswa atas kasus rakyat memunculkan demonstrasi seperti : kedung ombo, cimacam, waduk Nipah, dll. Inilah yang mewarnai gerakan mahasiswa di masa tahun 80-an dan awal tahun 90-an. Dari modal belajar mengorganisasi bersama rakyat dilembah penggemblengan inilah bekal untuk membangun organisasi baru yang solid serta konsolidasi gerakan.

Masa Reformasi 1998 dan Transisi Kekuasaan

Gerakan mahasiswa ’98 tidak bisa dilepaskan dari gerakan mahasiswa sebelumnya-gerakan 27 juli 1996- dimana setelah represi yang dilakukan oleh rezim orde baru, gerakan oposisi lumpuh. Kalau mahasiswa 1978 melakukan advokasi dengan kasus rakyat untuk memulai kembali perlawanannya, mahasiswa 1998 berangkat dari kampus-kampus. Demonstrasi dimulai dari kampus-kampus dengan mengangkat isu kampus maupun merespon situasi politik/ekonomi yang sedang mengalami krisis yang terjadi ketika itu maka mulailah dibentuk komite-komite aksi maupun solidaritas aksi yang taktis ini sangat efektif dalam meradikalisasi kampus sebagai pembangunan basis perlawanan. Perlawanan semakin resisten ketika mereka keluar dari kampus untuk menyampaikan tuntutannya. Sebelum keluar mahasiswa sudah dihadapkan dengan yang namanya gas air mata dan peluru dan tindak kekerasan militer di lapangan terhadap pengunjuk rasa. Situasi ini semakin membangkitakan solidaraitas mahasiswa seluruh Indonesia, bak jamur yang tumbuh subur melakukan perlawanan tanpa dikomando sampai banyak yang tertembak dan terluka. Intinya semakin ditekan gerakan mahasiswa semakin melawan. Mahasiswa melihat bahwa sumber permasalah di Indonesia ini adalah Soeharto, militer dan sistem yang anti demokrasi. Mulailah mahasiswa menyuarakan dari turunkan harga sampai turunkan Soehato dan keluarga (kroninya), tolak dwi fungsi ABRI, dll.