Monday, November 2, 2009

Muhammadiyah

Cakrawala: Muhammadiyah

Akhir minggu ini Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial-keagamaan yang didirikan pada 1912 di Yogya, oleh K.H. Ahmad Dahlan, baru saja menyelesaikan Muktamarnya yang ke-45. Muktamar kali ini dilaksanakan menjelang umurnya yang satu abad. Karena itu maka timbul pikiran-pikiran untuk melakukan evaluasi mengenai perkembangannya. Apa kemajuan yang telah dicapai dan masalah-masalah apa yang dihadapi? Di situ terselip pula gagasan untuk melakukan 'revitalisasi'.

Selama ini, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi 'pembaharu' yang mengemban misi modernisasi. Namun pada awal 1970-an, Nurcholish Madjid, ketika mencetuskan ide pembaharuan pemikiran dalam Islam, dia mengatakan bahwa Muhammadiyah telah 'berhenti' sebagai organisasi pembaharu. Sebaliknya, gejala pembaharuan justru nampak pada Nahdhatul Ulama (NU) yang menjadi 'pesaingnya'.

Padahal NU selama itu dikenal sebagai organisasi tradisional yang
perkembangannya selalu berada di 'belakang' Muhammadiyah yang memang lebih tua umurnya itu. Lebih dari itu, NU yang dipimpin oleh para kyai atau ulama pesantren itu dikenal sebagai organisasi yang bersikap konservatif atau 'letmi' telat mikir, karena sebelum bersikap selalu lebih dahulu merujuk kepada 'kitab-kuning'. Namun NU dalam realitas berkembang mengikuti Muhammadiyah.

Sinyalemen Cak Nur (panggilan akrab Nurcholish Madjid) itu sudah tentu membuat sebagian petinggi Muhammadiyah, termasuk Amin Rais sendiri 'marah'. Tapi dalam kenyataannya, NU nampak lebih maju. Misalnya NU memelopori penerimaan Pancasila. NU juga nampak lebih 'merakyat' sehingga dianggap mampu mewakili aspirasi 'wong cilik'. NU juga mampu menampilkan diri dengan wawasan kebangsaan dan ke-Indonesiaan, akrab dengan tradisi dan budaya.

Ketika kembali kepada khittah dalam Muktamarnya di Situbondo 1983, NU memelopori wacana 'Islam kultural' sebagai lawan dari 'Islam politik', walaupun NU justru sering terseret oleh arus politik praktis. Ini berarti juga bahwa NU menyatakan diri sebagai organisasi civil society. Terakhir timbulnya generasi muda yang beraliran liberal. Ini disimbolkan oleh Ulil Absor Abdilla, Masdar M. Mas'udi dan Zuhairi Misrawi. Dalam gejala-gejala itu justru Muhammadiyah yang nampak 'letmi' dan 'kebakaran jenggot'. Tokoh
muda Muhammadiyah, Din Samsuddin yang selalu punya perhitungan-perhitungan politik itu, justru menampatkan diri sebagai 'anti liberalisasi'.

Muhammadiyah sebenarnya memiliki tiga wajah. Pertama, sebagai organisasi dakwah yang berorientasi puritanisme. Kedua, sebagai organisasi pendidikan. Ketiga, sebagai organisasi sosial yang bergerak. Tiga wajah itu memang merupakan Trilogi Muhammadiyah.

Di bidang dakwah, Muhammadiyah dikenal sebagai penganut aqidah yang
berorientasi pada ajaran Ibn Taymiyah dan Muhammad Abdul Wahab (Wahabisme). Tema dakwah yang sangat terkenal adalah pemberantasan 'TBC', sebagai
singkatan dari tachayul, bid'ah dan khurafat. Dakwah ini dimaksudkan agar umat Islam berfikir maju dan bisa menerima ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Namun dakwah ini banyak menyinggung NU yang dianggap sarang TBC.

Padahal NU itu dakwahnya adalah Islam yang akrab dengan tradisi sehingga menyentuh rakyat kecil di pedasaan. Dampaknya, jumlah pengikut NU lebih banyak, sehingga NU dimahkotai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah yang lebih tua malah nomor dua. Dengan jumlah besar itu NU memiliki nilai politik. Itulah sebabnya NU selalu tergoda untuk 'berselingkuh' dengan politik dan kekuasaan, seperti tercermin dari perilaku Abdurrahman Wahid. Di sini pengaruh politik NU sering lebih kuat daripada Muhammadiyah.

Sekarang ini timbul 'kesadaran' di kalangan Muhammadiyah tentang pentingnya tradisi dan ke-Indonesiaan. Dari sinilah timbul gagasan untuk mengembangkan 'dakwah kultural'. Yang dimaksud dengan dakwah kultural disini bukanlah dakwah melalui kesenian, melainkan dakwah yang lebih ramah dengan tradisi.

Munir Mulkan adalah tokoh Muhammadiyah yang banyak studinya mengenai aspek budaya Jawa dalam Islam-Indonesia. Dia banyak menulis misalnya mengenai paham Syaikh Siti Jenar yang riwayatnya sarat dengan mitos itu. Dalam pemilihan umum yang lalu banyak diisukan bahwa "jika Amin Rais menang, maka selamatan dan tahlilan akan dilarang". Isu semacam itu sangat merugikan Amin Rais yang mencalonkan diri sebagai Presiden itu, karena selamatan dan tahlilan sudah membudaya dalam masyarakat. Sekarang ini Muhammadiyah masih dihinggapi dilema antara tradisi dan modernisasi. Muhammadiyah dinilai masih 'canggung' bergaul dengan tradisi.

Dilema kedua dihadapi di bidang politik. Pada 1980-an, Muhammadiyah pernah menggalakkan wacana mengenai 'masyarakat utama'. Wacana ini menimbulkan anjuran agar Muhammadiyah menjauhi politik, dalam arti jangan memburu kekuasaan, melainkan mengonsentrasikan diri dalam pengembangan masyarakat dan budaya. Hendaknya Muhammadiyah lebih memperhatikan pembinaan 'masyarakat madani'.

Godaan politik

Tapi ternyata Muhammadiyah tidak mampu menolak godaan politik. Dulu, Muhammadiyah pernah membangun Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), dengan mengirimkan Djarnawsi Hadisiswojo sebagai Ketua dan Lukman Harun sebagai Sekjen. Tampilnya Muhammadiyah itu bukan hanya diterima, tetapi juga dikehendaki oleh Pemerintah, yang ingin menyingkirkan orang-orang Masyumi.

Namun, ternyata kedua tokoh itu dianggap terlalu dekat dengan tokoh-tokoh Masyumi, karena tokoh semacam Mohammad Roem dan Anwar Haryono adalah keluarga Muhammadiyah juga. Akibatnya, Pemerintah merestui kudeta Anwar Kadir dan J. Naro menyingkirkan orang-orangMuhammadiyah yang ternyata dekat dengan Masyumi. Kemudian di masa reformasi, Muhammadiyah mensponsori pendirian Partai Amanat Nasional (PAN). Ini menyeret orang-orang Muhammadiyah ke arus politik dan partai dan kehilangan' pemimpinnya, M. Amin Rais. Selanjutnya Muhammadiyah juga memperjuangkan orang-orangnya untuk duduk di kabinet. Kecenderungan politik ini merisaukan kalangan Muhammadiyah.

Dilema yang lain adalah di bidang pemikiran. Konsekuensi dari mengusung modernisasi adalah berkembangnya pemikiran liberal. Muhammadiyah makin banyak didukung oleh cendekiawan daripada ulama/kyai. Namun harus diingat, bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang berorientasi pada puritanisme.

Pembaharuan' merupakan kata yang mengganjal, karena yang diinginkan Muhammadiyah adalah purifikasi dan pencarian otentisitas. Sementara itu, secara alamiah timbul pemikiran-pemikiran liberal di kalangan generasi mudanya. Ini dirasakan sebagai 'duri dalam daging' oleh Muhammadiyah.

M. Dawam Rahardjo
Staf Ahli PUSTEP UGM

No comments:

Post a Comment